Selasa, 17 Agustus 2021

Menjadi Orang Katolik Di Atas Standar

Mat 19: 16-22

 

Sewaktu melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMU) Seminari San Dominggo Hokeng (kira-kira 21 tahun yang lalu), saya cukup heran sekaligus mengagumi gaya hidup seorang imam yang mengabdi di lembaga pendidikan calon iman ini. Beliau adalah mantan guru dan Pembina saya. Nyaris setiap hari, saya memperhatikan dia selalu mengenakan baju dan celana yang sama. Saya tidak menganggap hal ini sebagai lelucon, walaupun memang kelihatan tidak cukup berimbang dengan rekan-rekan imamnya, yang selalu tampil dengan warna dan model pakaian yang berbeda. Saya tidak yakin bahwa beliau tidak bisa membeli pakaian karena alasan finansial. Karena ternyata, ia juga seorang imam yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia banyak membantu orang lain, terutama seminaris tertentu yang mengalami kendala dari sisi keuangan. Akhirnya, saya paham bahwa ada nilai atau keutamaan yang sementara dihidupi oleh sang imam. Semangat kemiskinan menjadi salah satu unsur utama yang menonjol dari gaya hidup sang imam ini.

 

Sang imam tidak hanya menjadi sosok guru dan pembina yang baik bagi para seminaris. Ia sungguh menjadi idola dalam hidupku. Karakter dan gaya hidup sang imam ini sangat membekas dalam perjalanan hidup saya. Setiap kali mendengar atau mengingat namanya, pasti saya membatin bahwa sang imam ini corak hidupnya sangat religius, santun, dan penuh kesederhanaan. Salah satu nilai fenomenal yang terpatri dalam pola hidupnya adalah nilai kemiskinan. Nilai ini serentak menjadi ajaran yang sangat penting dalam hidup saya secara pribadi. Untuk menjadi penuh dalam hidup, orang harus mengosongkan hidupnya. Orang tidak harus secara riil sungguh-sungguh miskin di hadapan Allah dan manusia. Menjadi miskin di hadapan Allah berarti orang harus memberi diri secara total bagi sesamanya. Orang boleh memiliki harta dan kekayaan, namun semua itu hanya menjadi media atau alat. Tidak menjadi fokus apalagi keutamaan dalam hidup. Harta dan kekayaan menjadi sarana bagi orang untuk mewartakan kebaikan dan kebahagiaan bagi semua orang. Demikian kira-kira, filosofi hidup yang telah diajarkan dan ditanamkan oleh sang imam melalui kesaksian hidupnya yang sungguh nyata.

 

Hidup dalam gelimangan harta duniawi, ternyata belum membawa kepenuhan hidup bagi seorang yang kaya. Dalam percakapan langsung dengan Yesus, ia bertanya tentang perbuatan baik apakah yang harus dilakukannya sehingga ia dapat memperoleh hidup yang kekal. Sebagai orang beragama yang baik, Yesus menegaskan bahwa ia harus melakukan segala perintah Allah yang tertuang dalam segala aturan dan hukum-Nya. Ternyata semua itu telah dilakukannya. Ia masih penasaran dan merasa masih ada yang kurang dalam hidupnya. Ia belum merasa lengkap atau sempurna dari segala hal yang telah dilakukannya. Lalu Yesus menjawab: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21).

 

Jawaban Yesus ini menjadi penyataan kunci dari isi percakapan mereka, namun tidak membawa pesan yang menggembirakan bagi si orang kaya. Ia tidak menyangka akan diberi pencerahan seperti itu. Ia merasa sangat sedih karena memang memiliki harta yang banyak. Ia tidak tega harus menjual segala harta miliknya dan membagikannya kepada orang miskin karena keterikatannya yang sangat kuat dengan harta pribadinya. Hal ini yang menurut Yesus menjadi penghalang utama bagi si orang kaya sulit untuk mendapatkan hidup yang kekal. Orang kaya itu memang tipe seorang agamawan yang baik. Tetapi ia belum memiliki kualifikasi sempurna sebagai anak Allah karena masih memiliki orientasi hidup yang utama pada harta duniawi. Harta duniawi yang dimiliki tidak membuat hidupnya menjadi penuh di hadapan Allah. Keterikatan pada harta duniawi membuat nuraninya menjadi buta untuk berbela rasa dengan orang lain.

 

Ada hal menarik yang ditekankan oleh Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini. Yesus ingin kita tidak hanya menjadi orang Katolik yang standar. Menjadi orang Katolik yang standar berarti kita merasa sudah sangat puas dan layak karena sudah menjalankan segala aturan dan kewajiban agama yang sudah ditetapkan. Kita merasa sudah layak menjadi orang Katolik apabila sudah menjalankan aturan ibadah, berdoa dan puasa dengan baik. Seringkali kita merasa nyaman karena tidak pernah melakukan fitnah atau mencemarkan nama baik orang lain. Kita juga merasa benar karena tidak pernah melakukan tindakan kriminal seperti menipu, mencuri dan membunuh. Yesus menghendaki supaya kita tidak sekedar menjadi orang Katolik yang standar dengan hal-hal demikian. Ada nilai atau spirit lain yang harus kita perjuangkan. Spirit itu yakni spirit kemiskinan.

 

Spirit kemiskinan bukan berarti kita harus menjual segala harta milik duniawi kemudian menjadi orang yang sungguh-sungguh miskin secara ekonomi. Spirit kemiskinan bukan berarti pula kita tidak perlu menjadi orang yang kaya dalam hidup. Yesus tidak pernah melarang orang untuk menjadi kaya. Dan Yesus juga tidak menuntut orang untuk harus menjadi miskin. Yang dipersoalkan Yesus adalah orientasi hidup yang utama pada harta duniawi sehingga menyebabkan orang menjadi serakah dan “mati” secara sosial. Harta duniawi menjadi fokus dan lokus terpenting. Orang tidak mau memedulikan sesamanya karena berpikir individualis dan egoistik. Dari dimensi ini, banyak orang Katolik yang berkategori baik dan benar, namun masih menghidupi karakter imannya dalam level yang standar.

 

Menghidupi spirit kemiskinan berarti yang pertama kita tidak menjadikan harta dan kekayaan duniawi sebagai tujuan utama hidup. Karena dengan orientasi demikian, hanya akan memotivasi kita menjadi manusia kalap. Manusia yang dapat menghalalkan secara cara demi mendapatkan harta duniawi. Harta dan kekayaan sebenarnya hanya menjadi wahana perwujudan konkrit iman kita kepada sesama. Kedua, kita mau ambil bagian dalam perhatian dan keprihatinan terhadap realitas sosial yang terjadi di sekitar kita. Kita mau berbagi bersama orang lain karena itulah kepenuhan hidup yang akan menyempurnakan hidup iman kita. Sekecil apa pun bantuan yang kita berikan pasti sungguh berarti bagi mereka yang sangat membutuhkan. Mari kita tidak sekedar menjadi orang Katolik yang standar. Kita harus menjadi orang Katolik di atas standar dengan menghidupi spirit kemiskinan dalam hidup. Semoga. ***AKD***

 

Minggu, 01 Agustus 2021

Mengelola Krisis Hidup Dengan Memaknai Kesunyian

Mat 14: 13-21

 

Kita semua pasti pernah mengalami situasi krisis dalam hidup. Krisis dalam hidup rumah tangga, krisis dalam relasi persaudaraan dengan anggota keluarga, krisis dalam relasi sosial di tengah lingkungan masyarakat, krisis dalam pekerjaan, dan masih banyak lagi jenis krisis hidup yang lain. Krisis dalam aneka persoalan hidup menunjuk pada pengalaman keterbatasan yang dialami seorang manusia. Manusia tidak bisa lepas dari setiap situasi batas yang dialaminya. Yang membedakan adalah cara setiap manusia menyikapi setiap persoalan yang dihadapi. Cara setiap manusia inilah yang paling menentukan apakah manusia mampu atau tidak untuk keluar dari krisis hidup atau situasi batas yang dialaminya.

 

Pengalaman krisis atau situasi batas dalam hidup dialami juga oleh Yesus dan para murid-Nya. Ketika mendengar bahwa Yohanes Pembaptis telah dibunuh, Yesus bersama para murid bermaksud pergi ke suatu tempat yang sunyi untuk mengasingkan diri. Yohanes Pembaptis dan Yesus memiliki keterikatan keluarga secara biologis. Ibu dari Yesus, Maria, dan ibu dari Yohanes, Elisabet, adalah dua bersaudara sepupu yang saling mengasihi satu sama lain. Walaupun sangat sedikit sumber yang menjelaskan bagaimana relasi emosional antara Yesus dan Yohanes, namun Yesus rupanya sangat mengenal jati diri dari Yohanes Pembaptis. “Di antara mereka yang dilahirkan oleh wanita tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Pernyataan Yesus ini sangat dalam maknanya tentang sosok yang bernama Yohanes Pembaptis. Yesus tidak hanya mengenal tetapi mengakui eksistensi Yohanes Pembaptis sebagai seorang utusan Tuhan. Oleh karena itu, berita kematian Yohanes Pembaptis menjadi situasi krisis pertama yang dialami oleh Yesus dan para murid-Nya. Yesus dan para murid sungguh bersedih sehingga mencari tempat yang sunyi untuk menenangkan diri.

 

Akan tetapi kepopuleran Yesus di tengah masyarakat sedang mengalami puncak keemasan. Banyak orang dari berbagai tempat terus mengikuti pergerakan-Nya. Ketika mengetahui tujuan kepergian Yesus, mereka lebih dulu mengambil jalan lain dan menunggu di tempat yang hendak disinggahi Yesus. Benar saja, ketika Yesus mendarat, Ia melihat banyak orang yang sudah menunggu-Nya. Karena tergerak oleh belas kasihan, Yesus menyempatkan diri untuk menyembuhkan mereka yang sementara sakit. Masalah lain pun mulai muncul. Hari terus bergerak menuju malam, namun tidak menyurutkan antusiasme dari orang-orang terhadap Yesus. Mereka tetap setia berada dengan Yesus. Hal inilah yang memicu kekuatiran para murid karena mereka tidak memiliki makanan yang cukup untuk memberi makan sekian banyak orang tersebut. Inilah situasi batas atau krisis kedua yang dialami oleh Yesus dan para murid-Nya.

 

Para murid sudah kehilangan akal bagaimana meyakinkan orang banyak untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Tidak ada cari lain yang ditempuh selain mendatangi Yesus dan mengungkapkan solusi yang tepat menurut mereka. Dalam batin, sepertinya mereka yakin Yesus memiliki kesamaan pikiran dengan mereka. Di luar dugaan Yesus memberi jawaban yang sungguh di luar dugaan dan akal sehat. “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:16). Jawaban Yesus ini menjadi sebuah solusi atas krisis hidup atau situasi batas yang sementara mereka alami. Walaupun sementara mengalami dua krisis atau situasi batas dalam pengalaman hidup-Nya, Yesus tetap menunjukkan sikap sabar, tenang, dan bijaksana. Bandingkan dengan sikap sebaliknya yang diperlihatkan oleh para murid. Mereka lebih cepat panik, takut, cemas, dan putus asa. Dengan kesabaran dan ketenangan-Nya, Yesus berserah diri kepada Bapa-Nya agar Ia dan para murid memperoleh solusi yang bijak dari situasi krisis yang sementara mereka alami. Pada akhirnya, lima roti dan dua ikan membuka jalan kebaikan bagi banyak orang. Situasi krisis berubah menjadi pengalaman fenomenal yang semakin menguatkan hati banyak orang untuk percaya kepada Yesus.

 

Seperti para murid, begitu juga seringkali kita menyikapi aneka krisis atau persoalan hidup yang kita alami. Kita mudah panik, cemas, kecewa, marah, putus asa, dan lari dari realitas krisis. Kita merasa berat dan tidak mau menerimanya sebagai suatu situasi batas yang harus kita alami. Menerima saja tidak, apalagi mau menyikapinya dengan bijak. Kita lebih cenderung menginginkan atau menyukai hal-hal yang baik atau membawa kegembiraan dan kebahagiaan hidup. Kita merasa senang dan bangga ketika ada kebaikan, keberhasilan, atau kesuksesan yang menghampiri hidup. Kita lebih gampang mengklaim diri sebagai causa prima atau penyebab utama di balik hal-hal baik yang kita alami. Dan ketika datang saja sedikit badai yang menerpa, kita mulai panik dan lari dari kenyataan. Anehnya, kita susah sekalih mengaku diri sebagai penyebab utama. Kita mulai mencuci tangan dan mencari kambing hitam. Memang sebagai manusia, kita selalu mencari pembenaran dan merasa diri selalu benar. Rasionalisasi menjadi hal penting dan utama manakala kita menyikapi situasi krisis atau situasi batas dengan tenang dan bijak. Yang menjadi masalah adalah rasionalisasi menjadi jembatan bagi kita untuk lari dari krisis hidup dan mulai mencari pembenaran diri.

 

Yesus telah mengajarkan bagaimana mengelola situasi batas atau krisis hidup yang kita alami. Mencari tempat yang sunyi tidak masuk dalam kategori melarikan diri dari kenyataan. Mencari tempat yang sunyi adalah bagian hakiki dari solusi. Kita perlu waktu dan tempat yang khusus untuk menepi. Kita perlu meninggalkan sejenak rutinitas yang selalu mengisi ruang-ruang hidup di saban hari. Tempat yang sunyi bukanlah tempat yang tidak bermakna. Ia menjadi bermakna manakala ada seberkas refleksi yang menandai jati diri kita sebagai seorang makhluk terbatas di tengah dunia yang penuh keterbatasan. Dalam keterbatasan, kita memerlukan sosok yang tidak terbatas. Kita ingin menyampaikan keterbatasan atau krisis yang kita alami, sehingga kita bisa mengalami ketidakbatasan di dalam kekuatan-Nya yang tidak terbatas.

Sosok yang tidak terbatas itu adalah Tuhan. Kita perlu mengalami Tuhan di tempat yang sunyi, agar dari pada-Nya kita mengalami ketidakbatasan untuk melawan situasi batas atau krisis hidup yang kita alami dalam hidup. Banyak orang yang gagal memaknai tempat yang sunyi sebagai bagian dari solusi krisis karena mereka tidak mampu menemukan keberadaan Tuhan di sana. Mereka merasa diri lebih besar, hebat dan kuat dari Tuhan. Tidak heran apabila, mereka tetap merasa cemas, takut, kecewa, putus asa dan tidak menerima situasi batas di dalam pengalaman hidupnya. Sejatinya, situasi yang sunyi menghantar kita untuk lebih dekat dengan sumber hidup yang tidak terbatas yakni Tuhan. Di dalam Diri-Nya kita pasti menemukan ketenangan, kekuatan, dan kebijaksanaan untuk menyikapi pelbagai krisis hidup yang kita alami. Mari kita meluangkan waktu di tempat yang sunyi untuk selalu menimba kekuatan dari Tuhan agar kita mampu menyikapi segala persoalan atau situasi batas yang kita alami dalam hidup dengan bijaksana. Semoga. ***AKD***

Selasa, 20 Juli 2021

Tanah Yang Baik Dan Penabur Yang Handal

Mat 13:1-9

 

Melihat fenomena para artis dan figur publik yang terseret dalam sebuah masalah, memiliki atensi tersendiri. Karena pertama, eksistensi para artis atau figur publik sudah menjadi pusat perhatian banyak orang. Mereka disukai, disenangi, dicintai dan diidolakan dalam hidup. Kedua, publik sudah terlanjur memberi level tinggi tentang status dan jati diri mereka. Oleh karena itu, kehadiran mereka di muka publik diharapkan tidak sekedar menjadi orang yang biasa-biasa saja, apalagi menjadi orang di bawah level itu. Pasti sangat tidak diharapkan oleh masyarakat umum. Para artis dan figur publik semacam sudah diberi pola sempurna untuk menjadi model hidup yang baik bagi banyak orang. Mereka diharapkan menjadi teladan dari sikap dan karekter pribadi yang ditampilkan. Maka ketika mereka terjerat dalam kasus tertentu, seperti narkoba yang terjadi belakangan ini, tentu menjadi keprihatinan bagi publik yang menyaksikan.

Menarik menyimak postingan sebuah akun di media facebook yang melitanikan kehidupan seorang artis atau figur publik dalam nada satir atau sindiran. Dia menulis begini: “Mereka (para artis dan figur publik) mengaku stress padahal duitnya banyak. Asetnya dimana-mana, rumahnya mewah, gede pula. Fasilitas lengkap, mau renang tinggal nyebur. Melek mata makanan sudah siap di atas meja. Mobil mewah digarasi, berjejer tinggal pilih. Tidak kepanasan, ada AC 24 jam nonstop. Pingin mandi air hangat ada water heater alias pemanas air. Pingin beli apa saja bisa. Pembantu ada, koki ada, security ada. TV setiap kamar dan ruangan, saluran internasional lagi. Internet sepuasnya. Mau belanja tinggal gesek dan pencet. Jika kita pikir kurang apa??? Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bahagia. Namun buktinya mereka masih merasa stress. Inilah pelajaran bagi kita semua bahwa memiliki segala kemewahan dan gemerlap dunia tidak menjamin seseorang bahagia. Karena kebahagiaan sejati hanya bisa dicapai apabila hidup dekat dengan Allah”.

Saya kira, tidak hanya para figur publik. Manusia dari berbagai segmen dan latar kehidupan, memiliki potensi dan kecenderungan yang sama untuk jatuh dalam kasus atau masalah tertentu. Satu potret kehidupan ironis para artis yang digambarkan di atas, mau memberi pesan bahwa hidup glamour dan bergelimang harta duniawi menjadi salah satu dari sekian tantangan yang bisa menjauhkan seseorang dari hakikat dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Harta atau materi duniawi memang penting untuk menunjang kehidupan seseorang. Akan tetapi, memprioritaskan hidup pada materi atau harta tentu tidak bisa dibenarkan. Pasti ada banyak nilai atau keutamaan dalam kehidupan yang dikorbankan. Yang lebih utama, manusia tidak memiliki kedekatan dengan Tuhan. Manusia tidak merasa penting untuk membangun komunikasi atau hubungan dengan pencipta-Nya. Tuhan tidak menjadi tujuan utama, karena sudah digantikan oleh tujuan lain yang lebih memberi kepuasan dan kenikmatan duniawi. Implikasi logis yang muncul, manusia akan melakukan tindakan atau perbuatan yang berlawanan dengan kehendak Allah.

Dalam perumpamaan tentang seorang penabur, Yesus mempresentasikan sekian tantangan atau hambatan yang membuat hidup manusia jauh dari Allah. Tantangan atau hambatan itu diibaratkan oleh Yesus dengan benih yang jatuh di tiga zona yang berbeda. Pertama, benih yang jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Kedua, benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya. Benih itu sempat tumbuh, tetapi sesudah matahari terbit, ia menjadi layu dan mati karena tidak memiliki akar yang kokoh. Ketiga, benih yang jatuh di tengah semak duri. Kemudian makin besarlah semak dan menghimpit benih itu sampai mati. Benih itu sebenarnya sabda Allah yang sementara ditaburkan kepada umat manusia. Dan penaburnya adalah Allah sendiri. Sabda Allah yang ditanam memang sudah masuk dalam diri manusia. Namun, ada tantangan-tantangan yang menghalangi pertumbuhan dan perkembangan sabda Allah dalam diri manusia.

Pertama, tantangan materialisme. Orang lebih mengutamakan hidupnya untuk mencari dan menumpuk materi atau barang duniawi. Kedua, tantangan hedonisme. Orang lebih suka atau senang hidup dalam kesenangan dan kenikmatan. Ketiga, tantangan konsumerisme. Budaya konsumtif atau menghabiskan segala sesuatu yang dimiliki demi memuaskan kesenangan dan kenikmatan diri. Keempat, tantangan rasionalisme. Orang sangat gampang menggunakan akal atau rasionya untuk mempertanyakan eksistensi Tuhan. Buntutnya, timbul sikap pesimis dan skeptis tentang keberadaan dan intervensi Allah dalam hidup manusia. Tantangan-tantangan ini secara tersirat dikemukakan oleh Yesus di hadapan banyak orang yang mengerumuni diri-Nya. Banyak orang yang terpesona dan antusias kepada diri-Nya. Tetapi itu tidak bertahan lama. Dinamika hidup dengan aneka pikiran dan tawaran yang menggiurkan perlahan namun pasti membuyarkan sabda Allah dalam diri manusia.

Tetapi Yesus tidak berkecil hati. Karena ada sebagian orang yang sungguh-sungguh percaya dan mengikuti sabda Allah. Sikap batin yang mereka miliki ibarat tanah yang subur. Tanah subur adalah tanah yang baik sebagai media tumbuhkembang benih. Benih itu akan tumbuh dan berkembang menghasilkan buah yang banyak. Orang-orang yang mendengarkan sabda Allah, sungguh menghayati dan meresapi sabda Allah itu di dalam hatinya. Mereka mau memperbaiki diri dan memiliki komitmen yang kuat untuk terus mengarahkan hidupnya pada kehendak Allah. Seiring dengan itu, tentu tidak sedikit tantangan yang datang untuk mempengaruhi mereka meninggalkan jalan Tuhan. Berkat keteguhan dan kegigihan iman kepada Tuhan, mereka dapat bertahan. Bahkan, mereka juga menjadi alat Tuhan untuk pergi menaburkan benih sabda Allah kepada sesamanya yang lain.

Hari ini Yesus memberi pengajaran agar kita dapat menjadi tanah yang baik dan penabur yang handal dalam menumbuhkembangkan warta kasih Allah di tengah dunia. Tidak gampang memang menjadi murid Yesus di zaman ini. Kita dihadapkan dengan aneka tantangan yang bisa menggoyahkan dan menghancurkan iman kita kepada-Nya. Kuncinya adalah kita tetap membangun hubungan yang akrab dalam doa-doa dan percakapan rohani kita dengan Tuhan. Hanya dengan demikian, kita akan dikuatkan dan diteguhkan untuk bertahan dalam iman kepada-Nya. Kita juga dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain dengan memberi kesaksian yang baik dalam hidup, tugas, dan karya kita. Semoga. ***AKD***

Rabu, 14 Juli 2021

Tentang Setia Di Rumah dan 6M

Mat 10:34-11:1

 

Baiklah kita menyimak sebuah pesan bijak dari Paus Fransiskus tentang bagaimana orang-orang harus tinggal di rumah dalam masa pandemi Covid-19. Sang paus berkata: “Saya tidak menganggap bahwa situasi yang mengharuskan kita tinggal di rumah bersama orang-orang yang kita kasihi dapat disebut isolasi. Isolasi adalah hal yang dialami oleh orang-orang yang benar-benar sakit. Hentikanlah berkata bahwa anda bosan, kesal, karena kalian tidak bisa meninggalkan rumah. Sementara orang-orang di rumah sakit ingin pulang ke rumah mereka. Jadi, berterimakasihlah kepada Tuhan kalau anda harus tinggal di rumah, karena setelah semua yang terjadi, dengan atau tanpa uang, dengan atau tanpa pekerjaan. Anda berada di tempat terbaik dimana anda bisa berada, di rumah, dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu. Mungkin ini adalah waktunya untuk mengubah rumahmu menjadi tempat yang indah untuk ditinggali, sebuah tempat kedamaian dan kehangatan. Rawatlah dirimu. Jadikanlah rumahmu, keluargamu, tempat yang penuh kasih”.

 

Menurut para ahli kesehatan, faktor utama yang memicu peningkatan jumlah kasus Covid-19 adalah ketidaktaatan orang pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Protokol kesehatan yang dimaksud tersebut dikenal dengan 5M. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas atau pergerakan di luar rumah. Kalau semua orang taat dengan aturan tersebut, dapat dipastikan bahwa badai pandemi Covid-19 akan segera terminimalisir atau hilang dari negara dan wilayah kita.

 

Namun realitas yang terjadi adalah sebaliknya. Orang-orang menjalani kehidupannya tidak sesuai dengan aturan dan harapan dari semua pemangku kepentingan. Berbagai himbauan baik lisan atau pun tulisan memang didengar dan dibaca oleh manusia. Tetapi masih jauh panggang dari api di tingkat implementasinya. Masih banyak orang yang melanggar baik secara sadar atau tidak. Ada beberapa alasan mengapa protokol kesehatan ini menjadi hal yang sulit untuk dilaksanakan. Pertama, kita belum terbiasa dengan cara atau pola hidup yang baru. Kedua, mentalitas kita yang apatis dan lebih mementingkan ego pribadi atau kelompok. Ketiga, ciri budaya atau tradisi kita adalah keterbukaan. Tidak ekslusif. Kita lebih suka berkumpul bersama-sama orang lain. Tidak hanya dalam suatu urusan yang penting, bahkan dalam urusan yang remeh temeh sekali pun, tradisi berkumpul telah menjadi bagian yang sudah mendarah daging dan susah untuk dihilangkan. Keempat, kita gampang merasa bosan dan putus asa dengan problem hidup yang terus mendera. Terutama deraan badai Covid-19 yang terus terjadi dan kita tidak pernah tahu sampai kapan akan berakhir.

 

Faktor-faktor ini yang menjadi batu sandungan, mengapa badai Covid-19 seakan menjadi sahabat sejati yang tidak pernah diharapkan kehadirannya oleh manusia. Manusia boleh saja tidak menghendaki kehadirannya, namun perbuatan manusia sendiri secara tidak langsung membuka “kran” kehadirannya di tengah dunia. Dengan tidak menaati prokes yang sudah digariskan, kita terus menciptakan kondisi yang nyaman bagi Covid-19 untuk tetap bersarang dalam kehidupan. Banyak yang sakit, banyak yang telah meninggal karena badai virus ini. Kita pun mungkin tidak luput dari terpaan badai ini. Berungtung kita masih diberi kehidupan dan keselamatan. Tetapi, banyak dari sesama, keluarga, sahabat, dan kenalan yang terpaksa harus pergi meninggalkan kita karena serangan virus ini. Seharusnya fakta memilukan ini menjadi refleksi yang kuat dalam perjalanan hidup bagi kita yang masih diberi kesempatan untuk hidup. 

 

Kata-kata dari Paus Fransiskus sungguh mengugah sekaligus menggugat nurani kita. Sudah saatnya kita menjadikan rumah kita sendiri sebagai tempat yang paling nyaman dan indah dalam kehidupan. Dengan berada di rumah, kita tidak hanya memenuhi unsur prokes dan memotong laju kembang Covid-19. Dengan setia berada di rumah, kita pun akan menggali dan menemukan banyak nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Ada nilai persaudaraan, kasih, dan semangat pelayanan yang tercipta dan terpatri di sana. Badai Covid-19, memberi ruang yang dalam dan luas bagi kita untuk semakin menguatkan kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual jika kita tetap setia berada di rumah. Kita dilatih untuk mengurangi interaksi atau mobilitas di luar rumah yang rentan dengan tertularnya Covid-19. Kita dididik untuk bersikap sabar dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi problem dan akibat lanjut yang ditimbulkan dari badai Covid-19. Kita dilatih untuk mengembangkan semangat cinta, kasih dan perhatian dalam komunitas sosial terkecil yakni keluarga. Dan tidak lupa, kita turut meningkatkan semangat iman karena kita memiliki banyak waktu untuk membangun relasi personal dengan-Nya.

 

Kata-kata Yesus: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38), menjadi kata-kata sakti agar kita perlu menambah satu unsur prokes lagi dalam 5M untuk memerangi badai Covid-19 di tengah dunia. Jadi dari 5M akan bertambah menjadi 6M. Huruf M keenam yang dimaksud adalah mendekatkan diri dengan Tuhan. Setia berada di rumah, semakin memacu kita untuk setia juga membangun relasi personal dengan Tuhan. Kita mendekatkan diri dengan Tuhan agar Ia dapat menunjukkan intervensinya menghilangkan badai Covid-19 dan hidup kita pun menjadi aman dan selamat. Menaati prokes adalah bagian tak terpisahkan dari hidup iman kita kepada Tuhan. Kita perlu menyalibkan kebiasaan, kegemaran, kesukaan, kesenangan, dan kenikmatan dalam hidup demi sebuah garansi kehidupan yang dapat membawa kebaikan dan keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain. Mari kita setia berada di rumah dan tidak lupa menerapkan 6M dalam kehidupan kita. Amin. ***AKD***

Selasa, 29 Juni 2021

Beriman Secara Benar Dengan Akal Yang Terang

                                                          Mat 8:28-34

 

Badai pandemi Covid-19 ternyata belum beranjak dari hadapan kita. Sudah kurang lebih satu tahun tiga bulan, virus ini mengakrabi hidup kita, sejak pertama kali diumumkan oleh pemerintah Indonesia pada awal bulan Maret tahun 2020. Akhir-akhir ini, malahan kita semakin dibuat lebih cemas dan takut dengan adanya penemuan virus varian baru dari Covid- 19. Menurut para ahli kesehatan, virus hasil mutasi Covid-19, yang dikenal dengan virus Delta, lebih cepat menular dan berbahaya. Banyak dimensi kehidupan manusia mengalami gangguan, sebagai Imbas dari serangan virus ini. Tidak sedikit manusia yang menjadi korban. Banyak yang sakit dan banyak pula yang harus meninggal dunia. Bahkan, korban yang terpapar dan meninggal dunia terus mengalami peningkatan kasus yang signifikan. Dikutip dari laman Merdeka.com, berdasarkan data terakhir pada hari Selasa, 29 Juni 2021, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah 20.467 menjadi 2.156.465 kasus. Pasien sembuh bertambah 9.645 menjadi 1.869.606 orang. Pasien meninggal bertambah 463 menjadi 58.024 orang. Kepincangan hidup bukan saja dari sisi kesehatan. Dalam dunia pendidikan, bidang sosial, bidang usaha mikro dan makro, bidang agama, semuanya mengalami disrupsi (gangguan).

 

Menurut saya, virus Covid-19 ini bukan sekedar wabah penyakit. Kalau diteropong dari sisi iman, ia bisa dikategorikan sejenis setan yang sementara menghantui dan menyerang manusia tanpa mengenal sekat wilayah, suku, agama, status, jabatan atau pun golongan. Transformasi setan dalam wujud virus ini mencoba menggiring manusia untuk semakin melupakan jati dirinya sebagai makhluk spiritual. Makhluk yang senantiasa berkiblat atau mengarahkan hidupnya pada kehendak Tuhan. Sungguh dasyat serangan virus ini sehingga membuat manusia harus melakukan banyak pembatasan dalam hidupnya. Termasuk dalam menjalankan ibadah dan interaksi sosial dengan sesamanya. Di bawah ancaman mautnya, manusia seakan dipaksa untuk bersikap ego dan apatis dengan realitas yang ada. Di beberapa tempat yang masuk zona merah, larangan kegiatan ibadah secara berjemaah mulai diaktifkan lagi. Kecuali ibadah secara pribadi di rumah masing-masing. Yang paling umum diberlakukan di semua tempat adalah larangan untuk bersalaman dengan sentuhan fisik, mobilitas ke suatu tempat dan berkumpul bersama-sama dengan sanak keluarga, para sahabat, kenalan dan handai tolan.

 

Setan covid-19 memang sungguh menantang iman kristiani kita. Bagi orang yang tidak memiliki iman yang tangguh, dapat dipastikan bahwa ia akan keluar dari jalur hidup sebagai orang Kristen. Ia tidak memiliki gairah untuk berdoa lagi, ia tidak memiliki rasa empati untuk menolong sesamanya, ia tidak memiliki keprihatinan dengan situasi sosial yang ada di sekelilingnya karena memiliki alasan yang logis dengan adanya pembatasan di masa pendemi ini. Hal yang tidak kalah krusialnya yakni orang mengabaikan himbauan kesehatan untuk mematuhi protokol kesehatan. Tidak menaati protokol kesehatan sama artinya orang tidak memiliki iman yang benar dan tangguh kepada Tuhan. Situasi miris seperti ini terjadi juga pada orang Gadara dalam bacaan Injil pada hari ini. Orang Gadara sejatinya termasuk dalam wilayah orang Yahudi. Namun karena kebiasaan mereka yang memelihara binatang babi, oleh sesamanya orang Yahudi di wilayah di luar Gadara, mereka tetap dicap sebagai orang kafir. Potensi sikap permisif (tidak mau tahu) dan apatis melekat dalam hidup dan pribadi mereka. Hal ini terbaca dari sikap mereka terhadap dua orang saudara yang mengalami kerasukan setan. Kelihatan mereka juga tidak merasa senang dan bersyukur terhadap saudara-saudara mereka yang telah bebas dari sakitnya. Mereka malahan mendesak Yesus supaya pergi meninggalkan daerah Gadara. Bisa saja mereka merasa kecewa dengan tindakan Yesus yang menyebabkan babi-babi peliharaan mereka menjadi mati.

 

Pada hakekatnya, orang Gerasa tidak memiliki ketangguhan iman yang kokoh sehingga mereka tidak meyakini kuasa ilahi yang ada dalam diri Yesus. Peristiwa penyembuhan dua orang Gerasa yang kerasukan setan mau menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan manusia jatuh binasa. Dalam pengalaman paling sulit atau buruk sekali pun, ada kuasa Tuhan yang senantiasa hadir dan menolong. Namun, orang Gerasa tidak mampu menangkap kuasa ilahi karena hati mereka telah membatu. Mereka tidak memiliki iman karena mereka memang tidak percaya dan tidak mau membuka diri kepada Tuhan. Realitas ini yang jamak terjadi juga pada situasi kita sekarang di tengah masa pandemi Covid-19. Kuasa Tuhan sebenarnya sudah menyata tetapi orang-orang tidak mampu menangkap sinyal itu. Melalui himbauan untuk patuh pada protokol kesehatan, sebenarnya Tuhan sementara melebarkan tangan-Nya untuk menyadarkan dan menyelamatkan kita. Tuhan menghendaki agar kita beriman dengan akal yang terang. Bukan beriman secara buta. Berdoa merupakan salah satu cara namun bukan menjadi satu-satunya cara kita beriman secara benar. Beriman dengan akal maksudnya kita percaya pada kuasa Tuhan yang datang lewat perkembangan ilmu pengetahuan untuk membawa kebaikan dan keselamatan dalam hidup. Dan Mematuhi protokol kesehatan adalah satu cara kita beriman dengan akal yang terang.

 

Keberadaan setan Covid-19 dengan variannya sebenarnya sementara mendidik dan mendewasakan hidup iman kita. Ia tidak hadir sebagai halangan yang bisa mendegradasi iman, tetapi justru ia sementara menguatkan dan merekatkan kembali simpul-simpul hidup iman kita yang mulai longgar atau terlepas. Dalam terpaan badai yang belum kunjung usai ini, kita sementara mendapat pembelajaran penting untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui percakapan secara personal dengan diri-Nya. Kita juga dilatih untuk semakin peka terhadap mereka yang menjadi korban dari hantaman badai ini. Banyak dari mereka yang tidak saja sakit secara fisik, tetapi juga mengalami sakit secara mental dan sosial akibat kehilangan usaha dan pekerjaan. Kita juga dididik untuk lebih beriman secara benar dengan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Tuhan menghendaki agar kita mampu membuka hati dan menangkap kuasa ilahi-Nya dalam segala realitas kehidupan yang kita hadapi. Mari kita beriman secara benar dengan akal yang terang. Amin. ***AKD***


Minggu, 20 Juni 2021

Menghindari Perbuatan Gosip

 

Mat 7:1-5

 

Hari ini kita merayakan pesta St. Aloysius Gonzaga. Aloysius Gonzaga adalah seorang santo pelindung pemuda Katolik. Ia dilahirkan pada tanggal 9 Maret 1568 di Lombardia, Italia. Ia merupakan anak sulung dari keluarga pangeran Castiglione.  Ketika berumur enam belas tahun, ia memutuskan untuk masuk biara Serikat Jesus (SJ). Ayahnya tidak sepakat karena berkeinginan anaknya menjadi seorang tentara. Tinggal dalam biara, pangeran muda Aloysius wajib melakukan pekerjaan berat dan kasar. Ia juga melayani di dapur dan mencuci piring-piring yang kotor. Dan ia tidak pernah mengeluh. Filosofi hidupnya sangat mulia: “Aku ini sepotong besi yang bengkok. Aku datang kepada agama agar dijadikan lurus oleh palu penyangkalan diri dan laku tobat.”

 

Pada awal tahun1591, terjadi wabah penyakit pes dan kelaparan di Italia. Aloysius mengumpulkan dana dengan mengemis di kota Roma. Dana itu disumbangkannya bagi daerah-daerah yang terdampak wabah penyakit. Aloysius bekerja secara langsung merawat orang-orang sakit, mengangkut orang-orang yang hampir mati di jalan raya, membawanya ke rumah sakit, memandikan mereka, memberi makan dan mempersiapkan mereka untuk menerima sakramen-sakramen. Sebagai manusia biasa, Aloysius sempat mengalami pergumulan dalam batin karena begitu berat situasi yang dia alami.  Namun, ia tetap merasa kuat untuk tetap melakukan pertolongan kepada orang-orang sementara membutuhkan bantuannya. Ia melayani orang-orang yang sakit hingga pada akhirnya penyakit pes itu menyerang tubuhnya juga. Santo Aloysius Gonzaga wafat dalam usia yang sangat belia yakni 23 tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1726.

 

Hari ini Yesus memberi pengajaran mengenai suatu pokok yang sangat praktis, sederhana dan mencerahkan. Jangan menghakimi. Atau bahasa sehari-hari yang biasa kita dengar, jangan membuat gossip. Jangan menciptakan cerita-cerita yang negatif dan tidak benar tentang orang lain. Gosip ternyata sudah berumur sangat tua. Ia (gossip) tidak hanya terjadi masa kini saja. Sejak zaman Yesus, atau mungkin sebelum itu, gossip sudah terjadi dan dihidupi oleh manusia, dari generasi ke generasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gossip berarti obrolan tentang orang lain; cerita negatif tentang seseorang. Esensi gossip ini begitu menarik sehingga merangsang sedemikian banyak orang untuk bergaul dan larut di dalamnya. Yesus tentu saja tidak asal mengeluarkan kecamannya: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat 7:1). Yesus tahu dan paham dengan situasi yang berkembang di kalangan umat Israel. Kebiasaan membuat gossip membuat Yesus gerah, tidak merasa nyaman, dan tidak menyukainya.

Yesus mengkritik keras orang-orang yang suka membuat gossip. Bahwa mereka yang melakukan hal demikian sebenarnya tidak bersih juga di dalam dirinya. Dengan bahasa alegoris Yesus berkata: “Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat 7:3). Yesus mengkorfirmasi bahwa mereka juga memiliki kesalahan, kekurangan, kelemahan, dan dosa. Namun, mereka tidak membicarakannya. Mereka sibuk mencari-cari kesalahan dan hal-hal negatif yang ada pada orang lain. Mereka menganggap diri lebih bersih dari orang lain. Mereka lupa bahwa ternyata di dalam diri mereka ada borok dan ngengat yang mungkin saja lebih kotor dan bau.

 

Hal menarik yang disampaikan Yesus adalah tentang hukum karma. Ukuran yang dipakai oleh para penggosip, akan dipakai juga oleh orang lain untuk melakukan hal yang sama kepada mereka. Semacam ada balas dendam. Gossip melahirkan gossip.  Yesus sudah mengantisipasi hal buruk yang akan terjadi. Meter yang sama akan dikenakan juga bagi mereka. Ini sebagai akibat atau hukuman bagi orang-orang yang suka menghakimi atau membuat gossip. Walaupun tidak secara eksplisit dijelaskan, tetapi dengan perbuatan gossip, pasti akan menimbulkan hal-hal buruk di kemudian hari. Situasi hidup menjadi tidak aman dan akan terjadi konflik. Ini yang mengancam rasa persatuan dan persaudaraan di antara masyarakat. Oleh karena itu, Yesus melarang dengan keras supaya orang-orang jangan suka menghakimi atau membuat gossip tentang sesamanya.

 

Perbuatan gossip tetap abadi hingga dengan situasi kita sekarang ini. Di tempat dan waktu kapan saja, kita bisa menyaksikan ada orang yang suka melakukan gossip. Apalagi ketika gosipnya ditanggapi dengan antusias, diberi bumbu lebih enak, pasti akan terus semakin enak rasa gosipnya. Di tempat kerja misalnya, ada rekan kerja yang memiliki hobi membuat gossip. Setiap hari ada saja materi gossip yang disiapkan dan dibedah bersama orang-orang yang mempunyai kecenderungan yang sama. Biasanya motif melakukan gossip itu karena merasa tidak nyaman dengan orang lain. Bisa juga timbul rasa iri hati karena orang lain memiliki sesuatu yang lebih. Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah. Perbuatan gossip itu tidak memiliki nilai positif. Hanya ada nilai mudarat atau tidak membawa keuntungan di dalamnya. Perbuatan gossip mengancam sendi-sendi kehidupan seperti rasa kebersamaan, persaudaraan, keutuhan dan kekeluargaan.

 

Hendaknya kita semakin menyadari diri bahwa sebagai manusia biasa, kita juga mempunyai pelbagai kelemahan, kekurangan, dan dosa. Dengan kesadaran ini, kita tidak tergoda untuk melakukan penghakiman dengan menceritakan hal-hal buruk atau tidak benar tentang sesama manusia. Justru dengan menyadari kehidupan yang semakin kompleks dewasa ini, kita semakin termotivasi untuk menciptakan kebaikan dan nilai-nilai positif lainnya, minimal di tempat atau lingkungan kita berada. Mari kita  hindari sikap gossip, dengan semakin merekatkan rasa kebersamaan, keutuhan dan persaudaraan. Sehingga dengan demikian, wajah Tuhan yang kita imani, tetap diwartakan sepanjang segala masa. Amin. ***AKD***

Minggu, 06 Juni 2021

Berkat Yang Mengiringi Penderitaan

Mat 5:1-12

 

Dalam banyak pengalaman pahit dan tidak mengenakan, suasana kebatinan kita tentu ikut terperosok ke level yang paling rendah. Kita merasa sedih, kecewa, sakit hati, dan tidak memiliki semangat hidup. Beruntungnya bahwa kita masih memiliki orang-orang terdekat, anggota keluarga, sahabat, dan kenalan yang tetap memberi hiburan dan dukungan agar kita dapat bangkit, segera move on, untuk menata kembali hidup dan suasana hidup kita. Apa jadinya hidup kita apabila tidak memiliki orang-orang yang senantiasa memberikan support? Ada kemungkinan hidup kita semakin tenggelam. Walaupun memang banyak orang yang merasa kuat dengan kemampuan pribadi yang dimiliki. Namun dengan kehadiran orang lain yang memberikan dukungan, tentu saja kita semakin merasa kuat dan memiliki optimisme hidup.

 

Yesus juga hadir memberikan hiburan dan dukungan kepada orang-orang kecil yang miskin, terpinggirkan dan tertindas dalam bacaan Injil yang kita dengar pada hari ini (Mat 5:1-12). Mereka adalah kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses atau kemudahan dalam hidup. Oleh otoritas negara dan elit agama, mereka kerapkali menjadi korban demi kepentingan para elit negara dan agama. Pajak yang tinggi, tuntutan akan barang persembahan di Bait Allah, dan pelbagai aturan agama lainnya yang kaku dan mengikat, adalah contoh sebagian kecil tindakan tidak adil yang dialami oleh masyarakat kelas bawah. Semua itu belum termasuk dengan pelbagai aksi murahan dan tidak terpuji para pemimpin agama yang seringkali merendahkan, menghina, mencela, menganiaya umatnya sendiri, apabila mereka tidak mengikuti apa yang dikehendaki atau diperintahkan oleh para pemimpin agamanya. Maka lengkaplah sudah pengalaman penderitaan dan dukacita yang terjadi atas diri mereka (masyarakat kecil).

 

Kondisi tidak menguntungkan yang dialami oleh masyarakat kelas bawah rupanya memantik sikap empati dan simpati dari Yesus. Oleh karena itu, ketika melihat konsentrasi massa yang membludak untuk mengikuti-Nya, Yesus memanfaatkan moment tersebut untuk menyampaikan hiburan dan dukungan kepada mereka. Bukan sekedar kata-kata kosong dengan apa yang telah disampaikan-Nya. Tetapi Yesus memberi garansi bahwa mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dalam nama Allah sendiri. Mereka tidak perlu takut dan cemas karena Allah senantiasa menyertai hidup mereka. Dalam penderitaan dan suasana dukacita yang sementara mereka alami, ternyata terselip juga berkat kebahagiaan dan keselamatan yang mereka terima. Yesus tetap mendorong orang kecil dan tertindas untuk tetap memiliki kemurahan hati, kesucian hati, dan senantiasa memperjuangkan kebenaran Allah. Walaupun mereka mengalami tekanan hidup yang dasyat, hal ini tidak menyurutkan niat mereka untuk menyerap dan mewartakan nilai-nilai yang dikehendaki oleh Yesus.

Inilah ciri khas sikap hidup kristiani yang sungguh luar biasa. Walaupun mengalami kemiskinan, ditindas, dianiaya tetapi tetap merasa bahagia di dalam nama Allah dan setia mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah dunia. Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus (2Kor 1:1-7) menyampaikan ucapan syukurnya kepada Allah karena Allah tetap mendampingi ia dan kawan-kawannya dalam segala penderitaan. Mereka tetap terhibur dan kuat oleh karena Allah tidak pernah meninggalkan mereka. Dan segala hiburan yang mereka terima, senantiasa mereka bagikan juga kepada saudara-saudara mereka yang lain. Dalam penderitaan, ada kekuatan dan hiburan untuk terus melipatgandakan firman dan membawa semakin banyak orang untuk percaya kepada Allah. Ini sebuah gerakan revolusioner rasul Paulus dan kawan-kawannya, yang tidak pernah takut menghadapi penderitaan dan dukacita hidup. Karena mereka percaya bahwa di dalam kegelapan, ada cahaya Tuhan yang selalu menerangi jalan hidup.

 

Seorang ibu mensyeringkan pengalaman penderitaannya ketika ia harus menerima dengan ikhlas berbagai tindakan kekerasan; entah kekerasan verbal, kekerasan psikis maupun kekerasan secara fisik yang dilakukan oleh suaminya. Ia tidak pernah melawan apalagi memberontak. Mulianya, cinta dan perhatian sebagai seorang istri tetap ia berikan walaupun ia terus mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Puncaknya, sang suami memutuskan untuk pergi dari rumah dan memilih untuk tidak kembali lagi. Walaupun mengalami rasa sakit dan kecewa yang dasyat, ia tetap sabar, kuat, dan setia melakoni hidup bersama-sama dengan kedua anaknya yang masih sangat kecil. Ia tetap bekerja seperti biasa menjadi seorang guru yang baik dan professional. Ia merasa kuat dan tetap semangat karena terus diberi hiburan dan dukungan oleh rekan-rekan seprofesinya.  Lebih dari itu, ia percaya kepada kehendak Tuhan yang terjadi atas diri-Nya. Ia tidak pernah menolak realitas hidup memilukan yang dialami. Ia percaya, Tuhan sementara merancang hidup lebih baik dan penuh kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan atau pikirkan. Ia tetap berserah kepada Tuhan dalam penderitaan dan dukacita hidup yang dialaminya.

 

Sebagai umat beriman, kita juga memiliki pengalaman penderitaan dan dukacita yang berbeda-beda. Mungkin kita pernah mengalami kekurangan secara finansial dalam suatu urusan atau rencana tertentu yang menyebabkan segala harapan dan niat kita menjadi gagal total. Atau bisa juga kita mengalami pengalaman yang tidak enak ketika difitnah, dicemooh, dan ditinggalkan oleh para sahabat dan rekan. Bisa juga kita mengalami rasa sakit karena penyakit tertentu yang tidak pernah kunjung usai. Kita juga bisa merasa sakit psikis oleh karena sikap dan perbuatan orang lain. Dan masih banyak lagi pengalaman penderitaan dan dukacita yang kita rasakan secara pribadi atau bersama-sama dalam keluarga dan komunitas kerja.

 

Hari ini, Tuhan memberikan hiburan dan dukungan agar kita tidak berkecil hati dan mengalami kemerosotan dan kehilangan iman kepada-Nya. Kita adalah orang-orang yang sungguh-sungguh berbahagia di hadapan Allah, yang akan mendapatkan berkat kebaikan dan keselamatan dalam hidup. Kita tetap menaruh kepercayaan total kepada Tuhan, karena kita yakin ada berkat terindah yang mengiringi segala pengalaman penderitaan dan dukacita yang kita alami. Semoga kita terus dan tetap mewartakan sabda Tuhan dalam tugas, karya, serta dalam pengabdian di berbagai lingkup kehidupan karena kita selalu percaya ada rencana Tuhan yang terbaik dalam tiap kesusahan, kegagalan, dan penderitaan hidup yang kita alami. Amin. ***AKD***