Injil Yohanes 3:13-17
Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menganuhgerakan
anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak
binasa, melainkan beroleh hidup kekal. Yoh 3:16)
Menurut Kita, apakah salib itu? Pertanyaan ini mungkin mudah, tetapi bisa juga merupakan pertanyaan yang sulit untuk di jawab. Setiap orang yang menggunakan salib di leher punya makna tersendiri untuk pribadinya. Ada seorang suster selalu membawah salib di sakunya. Ketika ditanya mengapa suster selalu membawa salib di saku? Ia akan menjawab dengan sederhana, bahwa salib merupakan kekuatannya. Tanda salib, dia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Salib membuatnya kuat dalam melayani, dan menjalankan panggilan, dan juga membuatnya tenang.
Sebuah
pengalaman pribadi ketika hendak melakukan perjalanan ke Jakarta. Dalam ruang
tunggu di bandara Surabaya, sambil duduk
menunggu jam keberangkat yang tertunda masin empat jam perutku sudah mulai
lapar. Mau makan tidak tau harus berbuat apa karena baru pertama kali melakukan
perjalanan, apa lagi sejak pagi belum menikmati sarapan sehingga perut terasa
perih. Tiba-tiba datang seseorang berperawakan tinggi sambil memegang sebuah
kotak berisi makan menghampiriku. Sambil bertanya padaku, “ Apakah tempat
disampingku ini tidak ada yang menempati,” Jawakku tidak ada. Akirhnya di
persilakan untuk duduk. Sambil membuka kotak makanan yang dipegang, sebelum
makan ia membuat tanda salib pada makanan itu. Saya pun memberanikan diri untuk
bertanya padanya, “ Apakah bapak seorang pastor, ”Jawabnya kamu tau dari mana.
Sambil bercerita saya mengatakan yang memberi berkat salib hanya tangan yang
terurapi. Saya juga seorang awam
katolik. Sambil menikmati makanan, ia juga berjalan ke sebuat tempat yang agak
jauh dari posisi kami duduk. Sekembalinya ia membawah sebuah kotak makanan
untukku dan mempersilakan untuk makan.
Pernahkan
kita memandang salib dan bertanya, “ Tuhan Yesus, mengapa engkau rela
disalibkan?” Jika pertanyaan itu muncul maka kita akan membuka sebuah dialog
dan bercakap-cakap dengan Yesus sendiri.
Dalam
tradisi Ignasian, St. Ignasius melalui
Latihan Rohani selalu mengajak orang untuk masuk kedalam sebuah dialog dengan
pribadi Yesus. Dialog ini adalah tindakan dua arah antara diri orang itu dan
Tuhan. Bermeditasi didepan salib, dan bertanya kepada-Nya sederhana, tetapi
sungguh membuat saya merasakan ketenangan batin, merasakan ketidak berdayaan,
perasaan bercampur aduk; Yesus secara personal melakukan itu untuk saya orang
berdosa. Jangan takut lakukan ini juga untuk orang lain terutama doa untuk
jiwa-jiwa yang terlupakan.
Salib
menjadi sebuah kisah pengalaman iman yang personal. Kita jangan hanya menaruh
salib tanpa sebuah perjalanan iman. Di dalam salib, ada kasih, suka cita,
damai, namun juga ada ajakan untuk turut ambil bagian dalam pengalaman-Nya.
Kita tentu sudah berbahagia karena diselamatkan, tetapi kita juga wajib menjadi
penyelamat bagi yang lain seperti yang telah dilakukan Yesus kepada kita.
Menjadi
pertanyaan, apakah makna salib bagi anda? Jadikan salib lebih bermakna dengan
melihat itu dari pengalaman iman anda.
Punyakah pengalaman iman atas salib?
Tuhan
memberkati kita semua.

