Selasa, 13 Oktober 2020

YANG LEBIH PENTING ADALAH NILAI KASIH DAN KEADILAN

Luk 11: 43-46

Seorang rekan kerja menceritakan pengalaman dan pandangan pribadinya tentang perilaku seorang pastor kepala yang bertugas di parokinya. Menurut rekan kerja saya, sang pastor paroki belum menunjukkan jati dirinya sebagai seorang gembala yang baik. Ia sering membuat pressure agar umat tidak boleh lupa akan kewajibannya untuk membayar iuran paroki. Ia juga tanpa malu-malu selalu mendorong umat untuk menyumbang secara pribadi atau pun kelompok. Alasan klasiknya demi pembangunan gereja dan pengembangan iman umat. Bahkan mimbar gereja dipakai oleh beliau untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Di satu sisi, umat tidak keberatan untuk menunaikan segala kewajiban atau pun menyumbang secara sukarela. Justru umat dengan kesadaran dan kemauan yang tinggi mau memberikan apa yang mereka miliki.

 

Namun di sisi lain, umat sangat kecewa dengan segala kebijakan dan perilaku pribadi pastor paroki yang dinilai sepihak dan tidak adil. Mulai dari laporan keuangan yang dinilai tidak wajar dan tidak transparan sampai mengerucut pada indikasi penyalagunaan keuangan milik paroki. Belum lagi ditambah dengan sikap pribadi sang pastor yang tidak populis dan diskriminatif. Ia hanya membangun dan mementingkan relasi sosial dengan orang-orang tertentu. Ia juga belum mampu merangkul semua umat. Bahkan karena sikapnya demikian, membuat umat terpecah dalam kelompok-kelompok. Bagi saya, ini hanya cerita sepihak dan belum tentu benar. Tetapi seandainya ada kebenaran yang terkuak dan menguatkan sharing pengalaman di atas, tentu hal ini sangat miris dan patut disayangkan.

 

Kalau kita menyimak dengan seksama bacaan Injil (Luk 11:43-46) yang baru saja diperdengarkan, kita pasti akan menarik kesimpulan bahwa Yesus dengan sangat keras mengecam perilaku orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Yesus mengecam mereka karena mereka gagal dalam mendengar sabda Tuhan dan melakukannya. Mereka juga keliru membimbing umat dan tidak memperlihatkan keteladanan yang baik untuk bisa ditiru dan diikuti. Tiga kecaman pertama dari Yesus ditujukan kepada orang-orang Farisi. Yang pertama, terkait dengan persembahan Tuhan. Orang-orang Farisi bisa memenuhi kewajiban dan aturan agamanya dengan membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran. Namun mereka gagal memperlihatkan hakikat dari persembahan itu yakni keadilan dan kasih Allah. Tujuan dari persepuluhan adalah sebagai tanda syukur kepada Tuhan. Tetapi orang Farisi sudah salah menafsirkannya sehingga orang merasa bukannya bersyukur melainkan sebuah pemerasan yang dirasakan. Dengan memiliki otoritas sebagai pejabat agama, tidak sulit bagi mereka untuk mempressure umat untuk memberi. Umat pasti mengikuti karena takut dicap sebagai pembangkang atau pembelot. Nilai sebuah persembahan sudah dikotori dengan niat busuk dari para pemimpin agama untuk mencari keuntungan pribadi dan kelompok.

 

Kedua, orang-orang Farisi ini senang dan bernafsu untuk mencari pamor atau prestise diri. Oleh karena itu mereka suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Karena merasa diri memiliki status dan jabatan mentereng, mereka menjadi sombong. Mereka merasa diri sangat pantas untuk menerima penghormatan dan penghargaan khusus di area-area publik. Kecenderungan sikap ini yang berseberangan dengan kehendak Allah agar setiap orang bisa menunjukkan sikap rendah hati, bertindak adil dan penuh kasih bagi semua orang tanpa tanpa sekat-sekat. Dan arogansi mereka ini, secara sosial memantik sikap antipati dari umat. Ketiga, Yesus mengecam tindakan munafik yang diperlihatkan oleh orang-orang Farisi. Pribadi mereka ibarat kubur yang dari luarnya tampak indah memesona. Tetapi di sebelah dalamnya penuh kotoran dan tulang belulang. Mereka menampilkan diri seolah-olah bersih dan suci tanpa celah. Namun hati mereka jauh dari Allah. Hati mereka dipenuhi oleh segala niat busuk untuk memenuhi segala kepentingan duniawi.

 

Selain kepada orang-orang Farisi, Yesus juga mengecam para ahli taurat. Mereka suka meletakkan beban-beban yang tak terpikul kepada orang, tetapi mereka sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. Setali tiga uang dengan orang Farisi. Para ahli taurat hanya mencari kenikmatan dan keuntungan pribadi dengan mengorbankan orang lain. Mereka sebenarnya adalah golongan para alim ulama yang sangat paham dengan isi kitab suci. Tetapi mereka menutup mata dan batin mereka untuk bertindak melampaui kehendak Allah.

Hari ini Yesus memberi pembelajaran kepada kita sebagai umat beriman agar kita selalu memberi prioritas kepada nilai kasih dan keadilan dalam hidup. Untuk menggapai level ini ada tiga hal yang harus kita ikuti. Pertama, sikap tulus dalam memberikan persembahan atau sumbangan dalam bentuk apa saja. Memberi persembahan (sumbangan) merupakan bagian integral dari seluruh penampilan pribadi kita. Oleh sebab itu, jangan mengotori setiap persembahan atau pemberian yang kita lakukan dengan niat yang tidak baik. Satu sikap destruktif yang bisa merusak totalitas persembahan adalah sikap makan riba. Atau sikap mengambil untung dari setiap pemberian yang kita lakukan. Sikap makan riba lebih dari sekedar mengambil keuntungan secara ekonomi. “Saya memberi supaya bisa diberi juga”. Bisa juga berarti “saya memberi supaya dikenal sebagai orang baik”. “Saya memberi supaya diakui sebagai orang yang memiliki sesuatu”, atau saya memberi supaya bisa menceritakan dengan bangga kepada orang lain.” Untuk sampai pada sikap tulus, niat-niat terselubung dan sesat demikian harus kita hindari.

 

Kedua, selalu menunjukkan sikap rendah hati. Keutamaan ini akan menjauhi diri kita dari sikap sombong dengan suka mencari kehormatan atau popularitas diri. Sikap sombong pasti akan memberi batasan dalam lingkup pergaulan sosial kita. Hanya orang atau kelompok tertentu yang menjadi tujuan pertemanan atau persahabatan kita. Sejauh itu memberi keuntungan tertentu juga kepada kita. Kita harus membebaskan diri dari sikap sombong agar kita bisa masuk dalam diri sesama dari berbagai segmen (kalangan) untuk membawa wajah kasih Allah kepada mereka. Ketiga, menjauhi sikap munafik. Kita harus menampilkan diri sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Jangan membuat kepalsuan dalam segala tampilan tutur kata dan perbuatan yang dapat menghancurkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Akhirnya, mari kita memberi diri kepada nilai kasih dan keadilan agar wajah Kerajaan Allah sungguh menampakan diri-Nya di muka bumi. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***


Kamis, 08 Oktober 2020

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu

Gal 3:1-5 & Luk 11:5-13


Kemarin Injil menampilkan kisah tentang permintaan para murid kepada Yesus untuk mengajari mereka berdoa. Kepada para murid-Nya, Yesus mengajarkan suatu doa yang paling hakiki, yaitu doa Bapa Kami. Doa itulah yang menjadi model, sumber inspirasi dan simpulan dari semua doa orang beriman.

 

Salah satu unsur doa yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya dan mendapat penekanan khusus dalam Injil hari ini adalah permohonan. Penginjil nyatakan itu dalam tiga kata kerja: mintalah, carilah dan ketoklah. Karena ketiganya memiliki orientasi yang sama maka dalam konteks refleksi ini, baiklah kita memilih kata pertama sebagai kata representatif.

 

Allah itu sumber hidup manusia. Manusia tidak bisa hidup dari dirinya sendiri, melainkan bergantung kepada kebaikan dan kemurahan hati Allah. Maka meminta kepada Allah apa yang sepatutnya untuk hidup adalah suatu yang taken for granted.

 

Ya, meminta itu sikap sepantasnya pada diri manusia. Dengan meminta manusia menunjukkan ketergantungan hidup pada Allah. Ia mengekspresikan iman dan kepercayaan kepada Allah, bahwa Dia itu Allah yang mahabaik; Dia mendengarkan keluhan dan rintihan umat-Nya; Dia itulah yang memenuhi permintaan orang-orang yang takut akan nama-Nya (lih Mzr 61:6).

 

Jelas kiranya, meminta kepada Allah itu bukan suatu yang buruk. Meminta itu baik karena ia menjadi bagian dari kehendak Allah sendiri. Setiap orang yang meminta dalam rasa takut yang suci akan Allah benar-benar akan menyatukan dirinya dengan kehendak Allah itu sendiri.

 

Namun perlu ditandaskan di sini bahwa meminta bukan asal meminta dan dilakukan secara serampangan seperti orang yang tidak mengenal Allah. Orang harus meminta dengan sungguh-sungguh dan itulah yang diminta Yesus, namun dalam keyakinan yang utuh. Setiap orang beriman tahu meminta yang baik kepada Allah yang mahabaik. Iman menuntunnya untuk meminta supaya kehendak Allah terjadi pada dirinya, bukan keinginan dirinya.

 

Dalam konfrontasi dengan pengalaman hidup, tidak sedikit orang memberi kesaksian bahwa mereka begitu setia dan tekun dalam berdoa dan meminta apa yang sangat ‘dibutuhkan’, namun semakin mereka berdoa dan meminta apa yang diminta semakin menjauh. Tuhan tampak tuli. Permintaan mereka tidak didengarkan dan dikabulkan Tuhan.

 

Pengalaman ini banyak digunakan sebagai dasar untuk menegasikan bahwa Allah itu mahabaik dan mahamurah. Tidak sedikit orang terjebak dalam ateisme praktis karena pengalaman ini. Namun adilkah pengalaman kita yang partikularistis itu dapat dijadikan dasar untuk menegasikan kebenaran hakiki pada Allah? Lebih baiknya adalah kita berusaha berkaca diri dan melihat apakah kita benar-benar meminta dengan benar sesuai dengan kehendak Allah?

 

Baiklah kita mendengarkan nasihat St. Yakobus: “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin” (Yak 1:6).

 

Lagi pula ia berkata: “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak 4:3).

 

St. Paulus meyadarkan kita bahwa iman akan Yesus adalah dasar penerimaan anugerah Roh Kudus. Iman menghadirkan Roh Allah. Roh inilah yang membimbing dan menuntun kita untuk meminta dengan benar kepada Allah, bahkan ketika kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, Rohlah berdoa untuk kita (lih Rm 8:26). Ia membawa kita melampaui kedagingan kita dan karena itu meminta apa yang benar-benar sesuai kehendak Allah yang menyelamatkan.

 

Roh itu pula yang membangkitkan harapan yang menyertai keyakinan kita bahwa Allah yang mahabaik dan mahamurah itu akan memberikan apa yang kita butuhkan untuk kehidupan dan keselamatan kita. Kapan dan bagaimana Allah menjawabi kita itu rahasia kebijaksanaan ilahi-Nya, namun pasti bahwa Ia menjawab setiap kita yang meminta kepada-Nya dengan rasa takut yang suci. “...jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga!”

 

Janganlah takut meminta dan jangan kuatir tidak akan didengarkan oleh Allah. Dia sendiri menghendaki kita meminta kepada Dia, tetapi dengan penuh keyakinan bahwa Dia itu sungguh baik dan mahamurah. Dia pasti mendengarkan dan mengabulkan doa kita. ***Apol***

Rabu, 07 Oktober 2020

KEKUATAN DOA

Luk 11:1-4      

Setiap orang pasti memiliki pengalaman tersendiri tentang kekuatan dahsyat dalam mendaraskan doa Rosario. Banyak orang kristen yang  sering memberikan kesaksian imannya tentang kekuatan doa Rosario yang menghantarnya pada keyakinan kuat akan penyelenggaraan Ilahi melalui Perawan Maria. Pengalaman iman ini semakin meneguhkan hidup orang kristen dengan keyakinan bahwa doa Rosario memiliki peran penting dalam perkembangan Gereja untuk membantu kita membangun relasi komunikasi dengan Tuhan. 

 

Hari ini Gereja Katolik merayakan Peringatan Santa Perawan Maria, Ratu Rosario. Peristiwa besar yang melatarbelakangi penetapan tanggal 7 Oktober sebagai tanggal Peringatan Santa Perawan Maria, Ratu Rosario adalah peristiwa kemenangan pasukan Kristen dalam pertempuran melawan pasukan Islam Turki. Menghadapi pertempuran ini Paus Pius V menyerukan agar seluruh umat berdoa Rosario untuk memohon perlindungan Santa Perawan Maria atas Gereja dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada Bunda Maria atas kemenangan pasukan Kristen melawan pasukan Turki di Lepanto pada tanggal 7 Oktober 1571.

 

Pasukan Kristen dibawah pimpinan Don Johanes dari Austria berhasil memukul mundur pasukan Turki Sebagai tanda syukur Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari pesta Santa Perawan Maria, Ratu Rosario. Kemudian Paus Klemens IX mengukuhkan pesta ini bagi seluruh Gereja di dunia. Dan Paus Leo XIII lebih meningkatkan nilai perayaan ini dengan menetapkan seluruh bulan Oktober sebagai Bulan Rosario untuk menghormati Santa Perawan Maria. Kita percaya bahwa doa rosario yang kita panjatkan dalam persatuan dengan Bunda Maria mempunyai kekuatan dahsyat untuk mengubah hidup kita dan Allah akan selalu menganugerahkan rahmat-Nya memenuhi hidup kita. Setiap kali kita mendaraskan doa rosario itu, kita mengucapkan dua ‘doa ajaib’, yang diwariskan Tuhan sendiri bagi kita, yakni ‘Bapa Kami’ dan ‘Salam Maria’

 

St. Dominikus pada akhir abad keduabelas dan awal abad ketigabelas mendorong semua orang untuk berdoa Rosario. St. Dominikus teramat sedih hatinya oleh karena menyebarnya suatu aliran bidaah yang sangat mengerikan yang disebut Albigensia. Bersama dengan Ordo Pengkhotbah yang baru dibentuknya, ia menyeruhkan perlawanan untuk membinasakan bidaah yang amat berbahaya bagi iman umat. Ia mohon bantuan Santa Perawan Maria, dan dikisahkan bahwa Bunda Maria memintanya untuk menyebarluaskan devosi kepada Rosario Suci. St. Dominikus mentaati keinginan Bunda Maria dan berhasil dengan gemilang menghancurkan penyebaran bidaah tersebut.

 

Rosario adalah suatu devosi yang amat sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang. Doa rosario dapat diucapkan di mana saja dan kapan saja karena tidak memiliki formulasi yang rumit. Sementara kita mendoakan Bapa Kami, sepuluh Salam Maria serta Kemuliaan, kita merenungkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam hidup Yesus dan Maria. Dengan cara demikian, kita semakin dekat serta akrab kepada Yesus dan kepada Bunda-Nya yang kudus. Kita berusaha untuk meneladani semangat hidup mereka yang kudus.

 

Bunda Maria amat senang jika kita berdoa Rosario sesering mungkin dengan teratur. Bunda Maria biasa mendoakannya bersama St. Bernadete ketika ia menampakkan diri kepadanya di Lourdes. Ketiga anak dari Fatima mengetahui rahasia kekuatan Rosario dari Bunda Maria. Bunda Maria mengajarkan kepada mereka bahwa berdoa Rosario mendatangkan rahmat serta menyelamatkan para pendosa dari api neraka. Dengan merenungkan secara khusuk peristiwa-peristiwa Rosario, kita dapat meneladani hati Bunda Maria yang setia mendengarkan Sabda Tuhan serta menyimpannya dalam hati.

 

Dengan doa Rosario, kita bisa semakin dekat dengan Allah lewat Bunda Maria dan di saat yang sama kita juga semakin terdorong untuk meneladan Maria. Maria adalah sosok perempuan yang taat dan patuh pada kehendak Allah, ia melakukan segala sesuatu dengan tulus hati, ia juga kuat dan tangguh menghadapi situasi yang tidak ringan. Perjalanan hidup Maria saat ia menerima Kabar Gembira dari Malaikat Gabriel sampai ia memegang jenasah Yesus dibawah salib menjadi cermin hidup kita. Dengan berdoa Rosario kita ingin menjadi pribadi seperti Maria. Dalam doa Rosario, salah satu doa yang didaraskan adalah doa ‘Bapa Kami’. Injil hari ini mengisahkan ,doa ini merupakan yang diajarkan oleh Yesus sendiri kepada murid-murid-Nya. Doa yang sama juga Yesus ajarkan kepada kita yang hidup di zaman ini. Mari kita mengamalkan nilai-nilai yang ada dalam doa Bapa Kami, yaitu memuliakan Tuhan, syukur, dan mengampuni.

 

Dua tokoh agung yang berjasah besar mengajarkan kepada kita doa-doa sederhana dan pendek tetapi memiliki makna mendalam yakni Yesus dan Bunda Maria. Yesus menjadikan doa sebagai kekuatan dalam melaksanakan karya keselamatan di dunia. Ia selalu mengambil waktu luang dan menyingkir dari keramaian untuk membangun komunikasi dengan Bapa-Nya, baik sebelum maupun sesudah berkarya. Teladan hidup doa Yesus itulah yang kemudian  menginspirasi para murid sehingga mereka meminta-Nya mengajarkan doa sederhana sebagai sara komunikasi dengan Allah. Menurut Yesus “Doa Bapa Kami” adalah doa yang sangat sederhana tapi syarat makna karena doa pendek ini merangkum seluruh ajaran iman Kristiani. Sedangkan Bunda Maria memiliki kedudukan istimewa di dalam Gereja Katolik karena melaluinya Yesus Puteranya hadir sebagai peletak dasar Gereja. Bunda Maria menjadi wanita terberkati karena kesederhanaan, kesetiaan dan kepasrahannya yang total pada kehendak Allah.  Kekuatan doa Rosario telah terbukti keampuhannya dalam perkembangan Gereja sebelumnya. Ia selalu mendampingi kita dalam peziarahan hidup dan menjadi perantara abadi kepada Puteranya, karena itu Maria menjadi tokoh inspirator yang menginspirasi kita untuk menjadikan doa sebagai kekuatan dan senjata kita.

 

Semoga kita senantiasa hidup dalam doa dan menghidupi doa dalam keluarga kita masing-masing. Kita tidak perlu mencari-cari formulasi doa yang sulit dan panjang-panjang, tetapi biarlah doa Bapa kami dan doa Salam Maria menjadi doa harian kita. Tuhan tidak menuntut formulasi doa yang panjang dan indah, yang Ia butuhkan adalah komunikasi intens dan kerendahan hati untuk mengakui kebesaran nama-Nya. Kita juga berkewajiban mendoakan Gereja agar mengalami perkembangan pesat di zaman modern ini dan membawa lebih banyak orang untuk diselamatkan. Iman kepada Allah adalah jaminan kekal bagi kita murid-murid Yesus. ***Bernad Wadan***

Rabu, 30 September 2020

BRAHMACARYA

 (Luk 9: 57 – 62)

Mahatma Gandhi (1869-1948) adalah seorang pemimpin spiritual, politikus sejati sekaligus pahlawan kebanggaan negara India. Ia merupakan seorang tokoh yang mengagumi figur Yesus. Ia begitu mengagumi pribadi dan ajaran Yesus tentang cinta kasih. Banyak kekayaan intelektual dan filosofi hidupnya dipengaruhi oleh ajaran Yesus. Tiga filosofi hidupnya yang sangat terkenal adalah satyagraha (berpegang kepada kebenaran), ahimsa (perlawanan tanpa kekerasan / non violence), dan brahmacarya (pengekangan diri). Brahmacarya atau pengekangan diri mengacu pada sikap asketis untuk mengendalikan diri dari segala kepentingan dan tawaran kenikmatan duniawi. Ciri khas brahmacarya menunjuk pada pola hidup yang keras. Orang dituntut untuk hidup di luar kelaziman. Meditasi menjadi bagian dari rutinitas. Pola makan yang diatur secara ketat (tidak boleh asal makan). Pola hidup yang terarah termasuk menjauhi segala kesenangan dan kenikmatan dunia. Atau dalam bahasa Kristiani orang harus sungguh menghidupi semangat kemiskinan dalam hidupnya.. Brahmacarya adalah salah satu jalan menuju kesempurnaan dan keselamatan hidup. Untuk menggapai kesuksesan dalam hidup orang harus menahan, mengekang segala keinginan duniawi dan menjauhi segala kepentingan yang menghalangi jalan menuju kemenangan hidup.

 

Dalam bacaan Injil (Luk 9:57-62) yang diperdengarkan kepada kita pada hari ini, ada tiga halangan besar yang membuat orang-orang sukar untuk mengikuti Yesus secara total. Pertama, ada harapan akan mendapat untung secara ekonomi dan sosial. Orang seringkali membuat kalkulasi atau bargaining untuk memperoleh benefit (keuntungan) tertentu ketika mengikuti Yesus. Dengan menggunakan analogi Yesus mengungkapkan: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Yesus dengan tegas mau mengatakan bahwa tidak ada keuntungan apa-apa dengan mengikuti Dia. Seseorang tidak akan menjadi kaya dan memiliki kedudukan atau jabatan yang tinggi. Malahan orang akan mengalami banyak tantangan dan kesulitan dalam hidupnya. Karena bersama Yesus, orang harus hidup di jalanan dan tidak mempunyai rumah sekedar untuk melepaskan rasa penat.

Kedua, orang masih memiliki keterikatan atau kelekatan dengan pola hidup yang lama. Hal ini ditandai dengan sikap orang yang mau mengikuti Yesus tetapi masih meminta izin untuk pergi menguburkan ayahnya yang telah mati. Yesus memang pada dasarnya tidak meniadakan alasan yang sangat krusial dari orang tersebut. Namun Ia melihat ada halangan terselubung yang mengganjal orang itu untuk mengikuti Yesus. Orang itu masih mencintai harta dan kekayaan duniawi yang dimilikinya. Statement keras “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60) mengafirmasi kehendak Yesus agar orang harus melepaskan segala keterikatan harta dan kekayaan duniawi jikalau mau mengikuti dan menjadi murid-Nya. Ketiga, orang tidak memiliki waktu untuk memberikan dirinya secara total kepada Yesus. Orang masih memikirkan dan mementingkan kepentingan pribadi dan keluarganya. “Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:62). Orang menjadi tidak fokus untuk mengikuti Yesus karena merasa urusan pribadi dan keluarganya berada di tempat pertama dan menjadi alasan utama.

 

Menilik tiga halangan yang digambarkan penginjil Lukas, kita perlu merefleksikan diri agar bisa secara lebih total mengikuti Yesus. Pertama, kita perlu menanamkan dalam diri bahwa mengikuti Yesus itu bukan perkara yang gampang. Butuh ketahanan diri yang mumpuni karena kita akan berhadapan dengan aneka tantangan dan kesulitan. Seorang murid Yesus harus siap untuk tidak mendapat keuntungan apa-apa karena mempertahankan identitasnya sebagai pengikut Yesus. Ia harus siap dihina, dicerca, dianggap rendah, dianiaya, bahkan harus menyerahkan nyawanya demi Yesus. Kedua, kita perlu membebaskan diri dari segala keterikatan harta dan kekayaan duniawi termasuk di dalamnya segala jabatan, kedudukan dan status sosial yang kita miliki. Yesus tidak melarang kita untuk memiliki semua harta dan kekayaan itu. Yesus menuntut agar kita bisa memberdayakan segala harta, kekayaan dan potensi yang kita punya untuk mengembangkan dan membumikan misi Kerajaan Allah di tengah umat manusia. Kehadiran kita di tengah dunia setidaknya bisa meringankan beban orang yang mengalami kekurangan secara ekonomi. Bisa juga kehadiran kita untuk membela atau mengadvokasi orang-orang yang tertindas dalam komunitas sosialnya. Atau kehadiran kita bisa juga memfasilitasi atau mempermudah jalan bagi mereka untuk mendapatkan pelayanan yang baik di ruang apa saja oleh karena jabatan atau status tertentu yang kita miliki. Ketiga, kita perlu menyadari dalam terang iman bahwa Tuhan telah menitipkan meterainya dalam segala jenis pekerjaan yang kita geluti. Tuhan memberikan kehendak bebas agar kita bisa menggunakan waktu dengan sebaik mungkin untuk mengabdi pada-Nya lewat profesi yang kita jalani setiap hari. Tolok ukur kita adalah bekerja untuk menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi banyak orang. Dan bukan hanya mementingkan kepentingan pribadi dan keluarga. Kita perlu menyerahkan diri secara total kepada Tuhan melalui pelayanan yang baik tidak hanya dengan rekan kerja tetapi kepada semua orang yang membutuhkan bantuan. Setiap waktu adalah waktu untuk Tuhan. Inilah pedoman praktis kita sebagai orang Katolik yang sungguh beriman kepada Tuhan.

 

Mahatma Gandhi telah mengingatkan kita akan filosofi brahmacarya (semangat pengekangan diri). Sebuah filosofi yang diadopsi dari Sang Guru Ilahi kita, Yesus Kristus. Brahmacarya mengajarkan kita untuk mampu bertahan dalam segala tantangan dan penderitaan. Mengekang segala keinginan sesat dan nafsu yang tidak terarah. Brahmacarya memungkinkan kita juga untuk lebih fokus menggunakan waktu dengan hal-hal yang lebih berkualitas. Lebih dari itu, semangat brahmacarya mampu membebaskan kita dari segala kepentingan duniawi dan menghantar kita untuk menjadi murid Yesus secara lebih total. Mari kita menghidupi semangat brahmacarya agar kita mampu mengikuti Yesus secara lebih fokus dan total demi memberikan pelayanan kepada sesama yang ada di sekitar kita. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

 

Selasa, 29 September 2020

PERAN MALAIKAT AGUNG BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

 Dan. 7:9-10,13-14; Yoh 1:47-51

            Bertolak dari kisah Kitab Suci dan refleksi Gereja, kita tidak bisa menganggap remeh peran para malaikat dalam sejarah iman kita. Karena itu, Gereja memberikan penghormatan khusus kepada para malaikat agung. Mereka adalah utusan Allah yang membantu manusia, dan menjadi pembawa pesan serta penyalur rahmat Allah bagi manusia.

            Gereja Katolik hari ini merayakan pesta para malaikat agung. Malaikat adalah sosok yang sangat diidolakan oleh anak-anak maupun kita orang dewasa hingga kini. Meskipun kita belum pernah melihat secara langsung sosok malaikat, namun melalui kesaksian kitab suci dan pelbagai sumber lainnya, orang dapat menggambarkan karakter khas malaikat: mereka adalah sosok yang diciptakan untuk melayani Allah dan melindungi manusia. Dalam tradisi iman Katolik ada banyak malaikat penolong kita, namun yang dipandang sebagai malaikat agung ada tiga yakni: St. Mikael, Gabriel dan Rafael. Malaikat Gabriel (artinya Allah kekuatanku). Gabriel adalah pembawa warta, bentara, kabar sukacita dari Tuhan bagi manusia. Gabriel membawa pesan dari Allah kepada Santa Perawan Maria bahwa Allah memilih dia untuk mengandung dan melahirkan Yesus Kristus Sang Mesias. Gabriel juga menyampaikan pesan kepada Zakharia bahwa Elisabeth akan mempunyai anak yang dinamai Yohanes. Malaikat Gabriel juga pernah datang kepada Daniel untuk mengatakan tentang kehadiran seorang Mesias di masa depan (Dan 9). Malaikat Mikael (artinya: ”Siapa yang seperti Allah/Siapa yang menyamai Allah?”): dia digambarkan sebagai panglima bala tentara surgawi. Dia membawa tombak untuk melawan iblis yang terusir dari firdaus (Wahyu 12) dimana dia mengumumkan misteri keadilan ilahi sambil meyakinkan kita akan kemenangannya. Malaikat Agung Mikael dihormati sebagai penjaga iman dan pejuang melawan bidaah. Sedangkan Malaikat Rafael (artinya Tabib Allah atau Tuhan yang menyembuhkan. Kitab Tobit (4-12) menggambarkan Rafael yang menyembuhkan Tobit, ayah Tobias dari kebutaan dan mengantarkan mereka pada keselamatan. Rafael dihormati karena perannya sebagai penyembuh dan membebaskan manusia dari perhambaan setan. Tujuan Allah mengutus malaikat adalah untuk menolong manusia agar setia mengimani Allah penyelamat. Kehadiran malaikat dalam kehidupan religius umat beriman membangun kesadaran baru tentang hidup beriman.

            Seluruh bacaan hari ini berbicara tentang peran Malaikat sebagai pelayan dan pembawa berita Allah. Daniel dalam bacaan pertama mengisahkan visinya kepada kita. Ia melihat takhta dengan nyala api yang diduduki seorang Yang Lanjut Usia, pakaian-Nya putih seperti salju, rambut-Nya bersih seperti bulu domba. Ada sungai api mengalir di hadapan-Nya. Beribu-ribu malikat berdiri di hadapan-Nya. Daniel juga melihat kehadiran seorang yang serupa Anak Manusia. Orang Yang Lanjut Usianya itu menyerahkan segala kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja. Dengan demikian segala bangsa, suku dan bahasa mengabdi kepada-Nya. Kekuasaannya kekal adanya dan Kerajaannya tidak akan binasa. Hal yang menarik perhatian kita adalah penglihatan Daniel ini menggambarkan suasana surgawi di mana terdapat Allah Bapa yang bertakhta dalam kemuliaan-Nya, Roh Kudus yang menyatukan mereka dalam satu kasih. Terdapat juga barisan para kudus yang berdiri di hadapan-Nya dan para malaikat yang melayani Dia. Gambaran Daniel ini mengorientasikan kita hanya kepada Tuhan semata dan tujuan hidup kita akhirnya adalah menuju kepada Allah dan melayani Dia selama-lamanya.

            Gambaran Daniel dalam bacaan pertama menjadi sempurna di dalam bacaan Injil hari ini. Yesus berjumpa dengan para murid pertama. Kali ini Filipus membawa Natanael (Bartolomeus) kepada Yesus. Yesus memandang Natanael dan berkata: “Lihatlah, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya” (Yoh 1:47). Natanael terheran-heran mendengar perkataan Yesus sehingga ia bertanya kepada Yesus bagaimana Ia mengenalnya. Yesus mengatakan bahwa sebelum Filipus memanggilnya, Ia sudah melihatnya duduk di bawah pohon ara. Duduk di bawah pohon ara adalah bahasa simbolis yang menunjuk pada orang yang mencari kebijaksanaan. Kini Natanael bertemu langsung dengan Sang Kebijaksanaan sejati yaitu Yesus maka ia berkata: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel (Yoh 1:49). Yesus sendiri meneguhkan kesejatian diri Natanael yang dengan terbuka dan tulus menanggapi ajakan Filipus untuk datang dan berjumpa dengan Yesus. Karena kesejatian dirinya maka Natanael pantas menjadi saksi atas kebesaran ilahi. Natanael menunjukkan kepada kita bahwa kesejatian atau keaslian diri adalah model hidup beriman yang pantas untuk menjadi pengikut Kristus, sebab menjadi pengikutNya bukanlah soal jabatan atau prestasi melainkan suatu pemberian diri yang tulus dan kerelaan untuk melayani tanpa henti.

            Keberadaan para malaikat ini diteguhkan oleh Yesus dalam pembicaraan-Nya dengan Natanael: Yesus berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51). Ungkapan Yesus ini mengingatkan kita akan penglihatan Yakub yang melarikan diri (Kej 28:12). Yakub diberkati Allah dan diberi penglihatan akan keagungan Allah. Yakub bermimpi bahwa di bumi ini didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat turun naik tangga itu. Kini Yesus mengulangi pengalaman Yakub ini kepadaNatanael. Ia akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat turun naik kepada Anak Manusia. Para malaikat menjalankan tugas sebagai pelayan bagi Tuhan siang dan malam. Natanael menyadari dan percaya pada perkataan Yesus yang penuh kuasa dan wibawa.  Dengan demikian, kita dapat menemukan pesan bahwa orang-orang yang dipilih oleh Allah akan menerima karunia agung yang disiapkan Allah bagi mereka.

            Melalui Sabda Tuhan hari ini, kita semua diteguhkan untuk belajar dari panggilan Nathanael dimana ia sungguh menjaga kemurnian hatinya sehingga rahmat Allah menghantarnya bertemu dengan Yesus Sang Kebijaksanaan Ilahi. Perjumpaan Natanael dengan Yesus menggambarkan kerendahan hatinya dimana imannya dimurnikan untuk mengenal Allah lebih dalam. Karenanya, menjadi pengikut Kristus bukan dalam kepura-puraan dan kemunafikan  melainkan total menyerahan diri pada kehendak Allah semata. Bahwa kadang-kadang kita menjadi skeptis dan tidak yakin, itu adalah bagian dari dinamika keberimanan kita. Pada perayaan malaikat agung hari ini, kita dapat belajar untuk melayani dengan sukacita seperti para malaikat yang tidak kenal lelah melayani Tuhan siang dan malam. Kita pun dipanggil untuk ikut melayani Tuhan siang dan malam, dengan melakukan tugas dan tanggung jawab kita yang dilandasi cinta kasih yang besar. Kita belajar seperti Malaikat Mikhael untuk melawan segala kejahatan di dunia ini bukan menyerah pada kejahatan. Kita belajar dari Malaikat Gabriel untuk berbicara yang benar kepada sesama kita, dengan menjauhkan diri dari berbagai gosip dan hoax yang menyakiti hati sesama kita. Kita belajar dari Malaikat Rafael untuk mendampingi anak-anak dan sesama kita ke jalan yang benar. Kita memberi diri untuk melayani semua orang sakit dengan hati sembari mendoakan mereka supaya cepat sembuh dari sakit penyakit mereka. Dengan meneladani peran dan spirit para malaikat agung yang kita rayakan hari ini, kita bisa menjadi malaikat untuk sesama dalam karya pelayanan kita sehari-hari dalam semangat kasih. Mari kita tampil menjadi pribadi-pribadi beriman sejati dihadapan Allah dengan tulus beriman kepadaNya penuh kerelaan hati untuk memberi diri dalam pelayanan kasih kepada sesama. ***Bernard Wadan***

Jumat, 25 September 2020

Waktu & Kebenaran

Pkh 3:1-11 & Luk 9:19-22

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pkh 3:1). Dalam bahasa lain, tidak ada yang kekal di bawah langit. Selagi terikat dengan ruang, selalu ada waktu yang membatasi segala sesuatu.

 

Karena segala sesuatu itu dibatasi oleh waktu, maka waktu menjadi hal yang amat penting. Orang beriman meyakini, waktu adalah karunia Allah yang tak terbanding nilainya.

 

Sebagai suatu karunia, waktu itu hanya dapat digunakan dalam kehidupan kita di dunia sekarang ini. Tidak untuk dunia nanti. Yang ada nanti adalah kekekalan atau keabadian. Adalah ilusi bahwa kita masih mengharapkan ada waktu dalam dunia keabadian.

 

Maka selagi kita menghuni dunia ini, baiklah kita memandang penting untuk mengisi waktu hidup kita dengan hal-hal yang berguna bagi kehidupan, baik di dunia sekarang maupun di dunia keabadian. Dan itu mungkin bila kita memiliki kebenaran yang datangnya dari Allah.

 

Yesus adalah keabadian; Ia itu kebenaran yang kekal. Namun Ia berinkarnasi dan masuk ke dalam ruang yang terikat oleh waktu. Ia datang ke dunia untuk menyatakan kebenaran agar manusia yang terikat oleh waktu sekarang ini sungguh-sungguh menggunakan kebenaran itu untuk mengisi waktu hidupnya di dunia ini. Apapun dapat dilakukan manusia, namun titik tolaknya adalah kebenaran yang diajarkan-Nya.

 

Yesus sungguh sadar bahwa segala sesuatu itu ada waktunya, termasuk juga kebenaran yang hendak diajarkan kepada manusia. Ia tahu momennya yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran-Nya. Kebenaran yang disampaikan bukan pada waktunya bisa menghadirkan kekacauan.

 

Setidaknya hal ini dapat kita petik dari larangan keras Yesus kepada para murid-Nya supaya jangan memberitahukan kebenaran tentang diri-Nya sebagai Mesias kepada siapapun. Belum waktunya untuk mengungkapkan kebenaran itu. Ia tahu bahwa orang kebanyakan belum memiliki pemahaman yang sama seperti yang dikatakan Petrus, bahwa Yesus adalah Mesias.

 

Meskipun pandangan umum mengatakan bahwa Yesus itu diidentikan dengan Yohanes atau Elia atau salah seorang dari antara para nabi yang telah bangkit, namun konteksnya adalah bahwa orang kebanyakan mengharapkan seorang mesias politis yang membebaskan mereka dari pejajahan Romawi. Yesus mesianik tidak memenuhi harapan mereka. Apabila kebenaran tentang Yesus itu disampaikan maka akan memancing perdebatan, pertentangan dan huru-hara besar di tengah masyarakat.

 

Inilah dasar bagi Yesus sehingga Ia melarang dengan keras para murid-Nya untuk memberitahu siapapun tentang Dia bahwa Dia adalah Mesias bukan pada waktunya. Akan ada waktunya bahwa kebenaran itu diwartakan ketika Yesus ditinggikan di atas kayu salib. Supaya semua orang yang memandang kepada Dia, menerima kebenaran tentang Dia dan  menikmati rahmat mesianik-Nya yang membebaskan dari dosa.

 

Pesan yang dapat kita petik untuk hidup kita adalah bahwa kebenaran itu penting, malah mutlak untuk disampaikan, namun kebenaran itu mesti diungkapkan pada waktunya. Orang tua-tua mengatakan, kebenaran yang tidak disampaikan pada waktunya sulit diterima. Butuh kearifan untuk menentukan waktu yang tepat.

 

Kita sadar bahwa kebenaran yang datang dari Tuhan tidak untuk membinasakan, melainkan untuk menyelamatkan. Maka meskipun kita terkadang berat menerima kebenaran dan tidak mau diubah, namun janganlah kita membiarkan diri kita tetap berkanjang dalam keadaan kita ini. Kita perlu memberi ruang hati kita untuk kebenaran yang mendatangi kita dan mau mengubah kita, agar waktu hidup kita di dunia yang begitu singkat dapat digunakan  sebaik mungkin dengan perbuata-perbuatan yang menyelamatkan, bukan membinasakan.

 

Hidup kita di dunia ini akan berlalu. Kata Pengkhotbah, segala sesuatu ada waktunya. Maka gunakan waktu kita sekarang ini untuk melakukan perbuatan baik apapun itu atas dasar kebenaran yang Tuhan ajarkan kepada kita. Itulah jaminan bagi kita untuk masuk ke dalam keabadian. ***Apol***


Rabu, 23 September 2020

Fokus Pada Tugas

Am 30:5-9 & Luk 9:1-6

Penulis Amsal menyatakan, “firman Allah itu murni” (ay 5). Ia memiliki kebenaran yang memadai dan karena itu mampu mencukupi kebutuhan rohani manusia. Maka lebih lanjut dituliskan: “Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung kepada-Nya” (ay 5).

 

Oleh karena firman Allah itu memadai dalam kebenaran dan berdaya memurnikan sesuai hakikatnya yang murni, maka penulis Amsal menganjurkan hal praktis tetapi bersifat hakiki. Anjurannya adalah: “Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta” (ay 6).

 

Kemurniannya mesti dipelihara. Itulah sikap hormat yang sepatutnya. Caranya sederhana juga. Elakan diri kita dari sikap merasa diri berlebihan untuk menambahkannya dengan pemikiran-pemikiran yang bersifat manusiawi dan terbatas. St. Paulus menulis: “... hikmat dunia adalah kebodohan bagi Allah” (1 Kor 3:19). Yang penting untuk dilakukan adalah menjadikannya sebagai perisai kebenaran yang menjaga dan melindungi kemurnian hidup.

 

Tidak cukup berusaha sendiri. Menurut Amsal, agar terhindar dari kecenderungan menambahi firman Allah dan merusak kemurniaannya, maka kita harus meminta kekuatan dari Tuhan untuk dua hal: Pertama, dijauhkan dari kecurangan dan kebohongan, dan yang kedua, jangan dianugerahi kemiskinan dan kekayaan. Keduanya dipandang sama-sama merusakkan komitmen untuk menjaga dan memelihara kemurnian firman Allah.

 

Kecurangan dan kebohongan membuat orang lupa bahwa ia tidak layak menambahkan pemikirannya pada firman Allah, apa lagi menggantikannya dengan pemikirannya demi kepentingannya. Misalnya, pada orang-orang yang bersumbu pendek kekerasan dan pembunuhan ditambahkan sebagai suatu yang dikehendaki Allah dan karena itu memandang perilaku kejam dan membunuh sebagai suatu kebajikan.

 

Demikanpun dengan kemiskinan dan kekayaan. Kekayaan memalingkan hati kita kepada materi dan mamon dan berpotensi sangat besar untuk mematikan kepekaan, perhatian, solidaritas, dan relasi persaudaraan dengan sesama. Bahkan ia mampu memudarkan, jika memang tidak mematikan, cinta dan doa yang murni kepada Tuhan. Kemiskinan material pun berpotensi merobohkan kemurnian hati pada firman Allah sebab kemiskinan bisa memaksakan kita mencuri dan mencemarkan nama baik Allah (ay 9).

 

Lagi-lagi. Fokus pada firman Allah  adalah urgen agar pewartaan bisa berhasil. Hati pewarta tidak boleh bercabang dan dihantui oleh berbagai hal yang merusak karya pewartaannya. Maka kepada para murid-Nya yang diperintahkan untuk memberitakan Injil, Yesus meminta agar mereka melucuti diri dari keterikatan terhadap kekayaan. Selaras kata Amsal, kekayaan berpotensi mengalihkan hati dan mereka terancam mengabaikan yang utama, yaitu Injil.

 

Sebaliknya yang diminta adalah supaya para murid itu mengandalkan Tuhan dalam seluruh karya pewartaan mereka. Tuhan sudah memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka dan itulah tanda keikutsertaan Tuhan dalam tugas perutusan mereka. Ia sendiri akan melengkapi mereka dengan kebutuhan yang secukupnya, tidak kurang dan tidak lebih, agar mereka tetap fokus pada karya pewartaan Injil.

 

Yang mau ditampilkan di sini adalah hidup dalam semangat kesederhanaan dan kesahajaan sebagai suatu sikap hati sangatlah penting. Kita sudah harus merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak sibuk dengan hal-hal yang lebih atau kurang. Janganlah kita merasa penting untuk mencari yang lebih-lebih atau merasa serba kurang dalam hidup kita sebab hal-hal itulah yang mengikat kita dan membuat kita tidak fokus untuk hal-hal yang penting dan hakiki.

 

Terlalu memikirkan yang lebih-lebih dan merasa serba kurang memaksa kita untuk mementingkan diri kita sendiri, melupakan orang lain dan juga melupakan Dia yang memanggil dan mengutus kita. Kita terjebak dalam sikap hati yang curang dan congkak di mana dalam karya pewartaan yang kita tonjolkan adalah nama dan popularitas diri kita. Atau juga kita terjerembab dalam kubangan kejahatan seperti korupsi karena hati kita haus akan materi  ataupun rengekan hati yang selalu merasa serba kurang untuk dipenuhi.

 

Refleksi ini merupakan jalan kita kembali kebenaran dan kemurnian hidup berdasarkan firman Allah. Untuk itu, baiklah kita mendengarkan kata-kata Amsal: “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku” (Am 30:8), dan apa yang dikatakan Yesus: “Jangan membawa apa-apa”. Biarlah dengan itu kita menjadi murni hati untuk firman-Nya yang murni dan fokus pada apa yang diminta Tuhan untuk kita lakukan dalam tugas perutusan kita.*** Apol***