Senin, 12 April 2021

TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR

 

Yoh 3:1-8

Kenangan masa paskah tahun ini (tahun 2021) terasa lain dari biasanya. Bahagia bercampur dukacita. Di saat kita bergembira ria menyambut pesta kebangkitan Tuhan, di moment yang sama ternyata ada sebagian saudara/i kita yang merayakannya dalam suasana duka mendalam. Paskah Tuhan seharusnya melahirkan kegembiraan, sukacita dan semangat baru. Namun itu tidak berlaku bagi sesama saudara/i kita yang terkena dampak banjir bandang dan longsor di beberapa wilayah di Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Mereka harus menerima “hadiah” paskah yang terasa pahit dan begitu menyakitkan. Banyak dari mereka yang tidak hanya mengalami kerugian secara materiil yakni kehilangan rumah dan segala isinya, tetapi yang lebih fatal adalah mereka harus kehilangan anggota keluarga untuk selama-lamanya.

 

Yang menjadi pertanyaan polos kita adalah mengapa peristiwa tragis itu harus terjadi? Dan mengapa harus terjadi di malam paskah? Ini semacam sebuah teka-teki yang tidak akan terjawab secara memuaskan dengan kaca mata manusiawi kita. Bahkan dalam pandangan paling suci sekali pun, tidak akan memberi rasa kepuasan dan keadilan bagi kita, terutama bagi mereka yang mengalaminya secara langsung. Terasa begitu sakit dan sungguh pedih.

 

Ada gugatan khusus kepada Tuhan. Mengapa Tuhan, Engkau timpakan beban yang teramat berat sehingga tidak bisa kami pikul. Dosa teramat berat model apakah yang kami lakukan sehingga membuat Engkau begitu murka dan mendorong kami jatuh ke dalam jurang. Kami sudah datang ke bait kudus-Mu setiap hari, setiap minggu dan setiap hari raya. Dan di malam yang sangat spesial lagi kudus, yakni malam paskah, kami baru saja merayakan hari kebangkitan-Mu. Cuma sesaat saja Engkau membiarkan kami larut dalam kebahagiaan bersama para kekasih hati kami. Dan segera setelah itu berganti dengan ratap tangis dan kesedihan yang sungguh mencekam. Dengan kejam, Engkau merenggut mereka dari tangan kami. Dimanakah keadilan-Mu ya Tuhan. Apakah Engkau masih ada di atas sana. Apakah Engkau sudah mati. Ataukah pura-pura mati sehingga tidak bisa menyelamatkan kami semua dari bencana dasyat ini.

 

Sungguh sebuah elegi (ratapan duka) yang tidak terelakkan ketika kita harus mengalami dinamika kehidupan yang tidak bisa kita terima secara manusiawi. Tuhan pun bisa menjadi kambing hitam atau penyebab utama dari semua pengalaman gelap dan tidak mengenakkan. Tetapi apakah benar Tuhan menjadi sumber atau penyebab dari semua pengalaman gelap yang kita alami? Apakah Ia sejahat itu? Mungkin kita seperti si polos Nikodemus yang tidak paham tentang makna kehidupan yang disampaikan oleh Tuhan sendiri dalam firman-Nya. Karena kita memahaminya dari sisi manusiawi semata. Dan bukan dari cara pandang Tuhan.

 

Tuhan memiliki alam pikiran yang berbeda dengan manusia. Kita tidak bisa melihat dan memandang Tuhan dengan cara manusiawi yang terbatas. Kita tidak bisa menggiring Tuhan dalam pikiran kemudian menyetel-Nya seturut kemauan kita. Tidak semudah itu dan tidak dibenarkan demikian. Kita harus sungguh-sunguh merasa intim dengan-Nya agar bisa menembusi segala misteri yang terjadi di sekitar kita. Termasuk dalam peristiwa alam yang meluluhlantakan manusia dan segala isinya yang baru saja lewat di hadapan kita.

 

Seperti Yesus yang membuka cakrawala berpikir Nikodemus yang sempit, Tuhan juga sementara melatih dan menggembleng agar kita mampu melihat semua peristiwa atau kejadian yang tragis dengan tidak menggunakan takaran manusiawi. Segala peristiwa tragis yang terjadi adalah ungkapan simbolik yang hanya bisa dimengerti dalam kaca mata Tuhan. Tuhan mungkin saja tidak menghendaki peristiwa maut itu terjadi (apalagi terjadi di hari pestanya yang meriah) namun bisa juga Ia membiarkan kejadian itu lewat untuk menguji, mendidik, membimbing, dan memoles kita menjadi seorang pribadi yang tangguh dan matang dalam iman kepada-Nya.

 

Memang tidak cukup fair dan adil apabila kita mengatakan demikian. Terlihat tidak memuaskan dan tidak memberi rasa kenyamanan bagi nurani kita. Mengapa hanya sebagian dan bukan seluruhnya saja. Biar semua sama-sama merasakan. Sekali lagi, dapat kita simpulkan bahwa Tuhan bekerja dengan cara dan metodenya tersendiri. Tidak bisa diintervensi oleh siapa pun. Rahasia Tuhan tetaplah menjadi rahasia. Ia akan menjadi terbuka apabila manusia dapat masuk dalam kekuasaan dan penyelenggaraan ilahi-Nya. Dari situlah misi Tuhan akan berhasil untuk menjadikan setiap kita betul-betul teruji dan terbukti sebagai seorang murid yang sejati.

 

Nikodemus pada akhirnya menjadi murid Tuhan yang sejati karena mampu membaca dan menyelami setiap rahasia Tuhan dalam sabda-Nya. Ia semakin yakin dengan imannya kepada Tuhan dengan adanya peristiwa salib yang bukan membawa maut tetapi sebaliknya membawa kebangkitan dan kemenangan. Semoga kita mampu membaca dan menyelami setiap sabda Tuhan yang teraktualisasi dalam aneka pengalaman hidup yang kita alami. Terutama dalam pengalaman yang getir dan menyakitkan bahwa sebenarnya Tuhan tidak pernah tidur. Ia selalu ada bersama dengan kita untuk mensosialisasikan kedasyatakan kuasa-Nya. Serentak pula, Ia tetap melatih, mempromosikan hidup kita dan membiarkan kita terus berkembang dalam kemanusiaan dan iman kita kepada-Nya. Hidup kita semakin terangkat menjadi pribadi yang kuat, bijaksana dan matang dalam menyikapi setiap persoalan yang kita alami di dunia ini. Dan di atas semua itu, kita menjadi murid-Nya yang lebih setia dan militan. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 28 Maret 2021

MERAWAT KASIH, PERSAUDARAAN DAN KEKELUARGAAN

 

Yoh 12:1-11

Semua orang tentu ingin hidup dalam suasana penuh cinta, rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang kokoh. Di dalamnya, orang saling berbagi, saling melayani, saling membutuhkan, dan saling melengkapi. Tidak hanya tergambar dalam suasana sukacita dan penuh kegembiraan. Melainkan terutama dalam situasi penuh kesulitan, penderitaan dan dukacita, rasa cinta dan persaudaraan diperlukan untuk saling menguatkan dan meneguhkan satu di antara yang lain.

 

Rasa penuh cinta, persaudaraan dan kekeluargaan sungguh dikisahkan dalam teks Injil pada hari ini (Yoh 12:1-11). Yesus datang ke Betania untuk kembali menemui orang-orang yang dicintai-Nya. Mereka adalah tiga bersaudara; Maria, Marta dan Lazarus. Pertemuan cinta antara Yesus dan tiga bersaudara ini, ternyata bukan baru kali ini saja. Setidaknya ada tiga pertemuan yang terjadi di antara mereka menurut catatan kitab suci. Pertama, moment Marta melayani Yesus, sedangkan Maria duduk di kaki-Nya untuk mendengarkan sabda. Kedua, moment Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Dan ketiga, moment pada saat ini, di mana Yesus kembali datang untuk mengadakan perjamuan bersama mereka.

 

Tiga peristiwa unik menandaskan bahwa Yesus sangat mencintai ketiga orang itu (Marta, Maria, dan Lazarus). Begitu pun sebalikinya, mereka juga sangat mencintai Yesus. Walaupun di antara Yesus dan mereka tidak ada hubungan darah, tetapi semangat cinta sebagai sesama manusia telah mempersatukan mereka sebagai satu saudara dan satu keluarga. Dipisahkan oleh jarak dan rutinitas sehari-hari, ternyata tidak menyurutkan niat mereka untuk kembali bersatu, sekedar untuk duduk bercerita, saling berbagi kisah kehidupan, dan mengadakan acara perjamuan.

 

Dalam pertemuan penuh cinta hari ini, dijelaskan peran masing-masing dari mereka. Yesus duduk makan ditemani oleh Lazarus. Sementara Marta yang bertugas melayani mereka. Sedangkan Maria mengambil minyak narwastu, yang wangi dan mahal harganya, kemudian menaruhnya pada kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Lazarus telah memainkan perannya sebagai seorang sahabat yang baik dengan duduk menemani Yesus. Tidak hanya duduk saja tetapi ia juga setia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Yesus. Pengalaman kebangkitan yang dialaminya, tentu membuat ia semakin percaya dan mau mendengarkan setiap hal yang dikatakan oleh Yesus.

 

Marta adalah seorang perempuan pekerja yang tidak bisa diam di tempat. Pada pertemuan pertama dengan Yesus, ia juga yang sibuk di dapur untuk melayani Yesus. Sementara saudarinya Marta hanya duduk saja menemani Yesus. Pelayanannya yang total dan tulus ditunjukkannya lagi pada pertemuan yang ketiga kali ini. Ia selalu sigap dan gesit di dapur mempersiapkan makanan dan minuman untuk Yesus dan para murid-Nya. Maria adalah tipikal perempuan yang berbeda dengan saudarinya Marta. Ia lebih halus, manja dan kurang peduli dengan pekerjaan di dapur. Mungkin karena ia terlahir sebagai anak bungsu sehingga memiliki karakter seperti anak bungsu pada umumnya.

 

Yang patut diapresiasi adalah tindakannya meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal. Yudas Iskariot, salah seorang murid, melihat dari sisi ekonomi semata bahwa tindakan Maria adalah sebuah tindakan  pemborosan. Namun Yesus tidak merasa bahwa Maria melakukan perbuatan yang konyol. Malahan Yesus membiarkan Maria terus melakukan hal demikian. “Biarkanlah dia melakukna hal ini mengingat hari penguburan-Ku” (Yoh 12:7). Secara implisit Yesus telah meramalkan kematian-Nya, namun kubur-Nya akan harum mewangi dengan minyak wangi yang dibawa oleh Maria.

 

Perbuatan Maria yang meminyaki kaki Yesus adalah sebuah tindakan mulia yang tidak bisa diukur dengan harta seberapa banyak pun itu. Begitu pun juga dengan sikap yang ditunjukkan oleh Marta dan Lazarus. Sikap mendengarkan dan melayani dengan tulus adalah bagian dari perbuatan mulia yang dilandasi oleh sikap cinta, rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang kokoh. Tanpa nilai-nilai itu, dapat dipastikan bahwa ketiga orang itu (Marta, Maria, dan Lazarus) tidak akan menerima dan melayani Yesus di rumah mereka. Hanya dengan semangat cinta yang mendorong mereka melakukan segala perbuatan yang mulia.

 

Dewasa ini, semangat kasih, persaudaraan dan kekeluargaan mulai terkikis oleh arus zaman. Dalam keluarga inti, antara suami, istri dan anak-anak tidak jarang kita menyaksikan tontonan yang menyayat hati. Suami sekaligus seorang bapak, dengan mudahnya bisa melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap istri dan anak-anaknya. Lebih parah lagi, walaupun ia memiliki kemampuan dan potensi, tetapi ia tidak mau menafkahi mereka secara lahir dan batin. Seorang istri juga kadangkala tidak menghargai dan menaruh rasa hormat terhadap suaminya. Ia lebih sibuk dengan HP (smartphone) sebagai tempat curhat. HP bisa menjadi sarana untuk mengungkap pelbagai aib dalam keluarga sendiri. Herannya, banyak ibu atau perempuan yang merasa puas dan lega kalau sudah membeberkan segala persoalan pribadi dan keluarga di media sosial.

 

Anak-anak yang terlahir pada masa kini juga ternyata tidak tertata dengan baik sikap etika dan moralitasnya. Mereka kurang atau tidak mau mengikuti arahan, bimbingan atau nasihat dari orang tua. Bahkan mereka menunjukkan sikap resistensi atau perlawanan ketika keinginan atau gejolak muda mereka tidak terpenuhi. Di tempat kerja lain lagi. Sikap iri hati, dengki, dendam, dan angkuh seolah-olah menjadi menu harian kita. Realitas ini tentu membuat semangat cinta, persaudaraan dan kasih kehilangan maknanya. Orang-orang lebih mementingkan ego sehingga menimbulkan gesekan dan konflik yang berkepanjangan. Tidak ada semangat kerendahan hati untuk saling meminta maaf dan memberi ampun. Dalam hal ini, kita telah menjadi manusia yang mati sebelum meninggal. Manusia yang dengan tahu dan mau mematikan semangat cinta dalam hidupnya.

 

Yesus bersama ketiga sahabat setia-Nya, Marta, Maria dan Lazarus telah membumbui kehidupan mereka dengan rasa cinta, persaudaraan sejati dan kekeluargaan yang solid. Di dalam relasi yang sejati itu ada semangat pelayanan yang total dan tulus. Dalam relasi itu ada semangat perjuangan dan pengorbanan untuk saling melengkapi tanpa sikap irihati, dendam dan dengki. Yang ada hanyalah sikap rendah hati untuk saling menghormati, saling menghargai, dan saling mendukung sehingga dapat tercipta rasa cinta, persaudaraan dan kekeluargaan.

 

Marilah kita senantiasa merawat nilai cinta, persaudaraan, dan kekeluargaan di rumah, di lingkungan, di tempat kerja, dan di mana saja kita berada agar kita dapat menyambut paskah Tuhan, yang tinggal beberapa saat lagi, dengan hati layak dan pantas. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 16 Maret 2021

ASAL SEGALA PERBUATAN LUHUR DARI ALLAH

Yoh 5: 17-30

Socrates, seorang filsuf besar dari Yunani pernah mengatakan bahwa hidup yang tidak pernah dipertanyakan adalah hidup yang tidak pantas dijalani. Memang benar adanya bahwa sebagai makhluk kodrati, manusia selalu memiliki keterarahan kepada Sang Pencipta sebagai wujud adikodratinya. Manusia senantiasa melakukan refleksi tentang hidupnya. Tentang apa yang telah dilakukannya. Apakah itu sudah sesuai dengan kehendak Allah atau belum. Dengan adanya refleksi hidup, manusia dibimbing dan dituntun untuk bertindak semakin baik dan menjauhi segala perbuatan yang buruk sesuai dengan standar moral yang berlaku. Lebih dari itu, dalam kaca iman, manusia semakin memperbaiki diri untuk berkiblat pada Tuhan dan segala firman-Nya.

 

Hanya manusia yang tidak menyadari eksistensi dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tidak mau mempertanyakan atau melakukan refleksi atas hidupnya. Orang-orang ini cenderung merasa diri lebih pintar dan bijaksana sehingga melakukan sesuatu yang dianggap benar berdasarkan standar kebenaran pribadi tanpa mempedulikan nilai atau keutamaan lain yang lebih tinggi. Sehingga tidak heran, apa yang dibuat atau dilakukan terbaca tidak adil. Mereka lebih mementingkan pamor, jabatan dan kedudukan pribadi dengan mengabaikan semangat atau spirit kasih yang berlaku tanpa batas bagi semua orang.

 

Salah satu elemen masyarakat yang tidak menyadari jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah para pemimpin agama yang hidup sezaman dengan Yesus. Walaupun dengan jelas Yesus sudah mempresentasikan Diri-Nya sebagai Anak Allah, namun mereka tetap tidak mau mengakuinya. Akar persoalan ini muncul karena pribadi mereka telah terkontaminasi dengan sikap ego dan sombong. Mereka merasa diri paling pintar dan hebat.

 

Dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 5:17-30), api kemarahan semakin membara dalam diri para pemimpin agama terhadap Yesus. Bahkan mereka “lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (yoh 5:18). Kuasa otoritatif Yesus sebagai Anak Allah telah membuktikan tindakan-Nya yang melampaui hari Sabat. Sebuah hari suci yang dipandang lebih penting dari nilai atau martabat seorang manusia. Kehadiran Yesus akhirnya bukan menghilangkan hari Sabat tersebut, tetapi memenuhi dan menjiwainya dengan semangat kasih.

 

Tindakan atau perbuatan Yesus yang revolusioner ini sebenarnya bukan berasal dari Diri-Nya sendiri. Ada pendelegasian wewenang yang telah diterima-Nya dari Allah, Bapa-Nya di sorga. Namun, pendelegasian wewenang tidak menggariskan bahwa kedudukan Yesus lebih rendah dari Allah, Sang Bapa. Kedua-Nya bukan dua entitas yang berbeda. Kedua-Nya adalah satu. Yesus adalah Anak Allah. Dan Allah adalah Bapa dari Yesus. Atau secara tegas kita dapat mengatakan bahwa Yesus ada dalam Diri Allah. Dan Allah ada dalam diri Yesus.

 

Karena kedekatan personal antara dua pribadi ilahi ini, maka segala pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus tentu saja disetujui dan berasal dari Bapa-Nya. Yesus mengatakan: “Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh 5:19). Dengan pernyataan ini, Yesus menandaskan kepada semua orang bahwa Ia datang karena kemauan dan kehendak Allah. Lebih dari itu Allah adalah Bapa-Nya. Allah telah melimpahkan segala kuasa ilahi-Nya dalam diri Yesus. Termasuk dua kuasa besar yakni kuasa untuk membangkitkan orang mati dan kuasa untuk menghakimi (ayat 21-22).

 

Kuasa ilahi yang diberikan oleh Allah Bapa kepada Yesus adalah bukti nyata kasih Allah yang paling luhur kepada umat manusia. Dengan terang benderang Yesus melakukan pekerjaan ilahi-Nya untuk mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat dan bahkan membangkitkan orang mati. Puncak dari pekerjaan-Nya yang mulia adalah kebangkitan-Nya pada hari paskah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari keterpurukan dosa. Dan pada saat kebangkitan orang mati, Yesus memiliki kuasa untuk memberi penghakiman. Ia sendiri berkata: “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:28-29).

 

Segala hal yang baik dan bernilai yang telah dilakukan oleh Yesus berasal dari Allah Bapa di sorga. Dengan demikian, segala hal baik dan bernilai yang telah kita lakukan di dunia ini merupakan cerminan dari pekerjaan Yesus dan Bapa-Nya di sorga. Satu pertanyaan refleksi buat kita semua. Pernahkah kita menyadari karya Allah dalam setiap tugas dan pekerjaan kita? Ataukah kita menganggap semua itu sebagai hal yang biasa saja, tanpa campur tangan sedikit pun dari Allah. Atau juga kita mengklaim segala hal yang telah kita buat adalah buah pikiran dan hasil kreasi pribadi. Kalau kita masih berada dalam “zona nyaman” seperti ini maka kita belum menyadari eksistensi pribadi kita yang sebenarnya. Kita belum menyadari diri kita sebagai makhluk Tuhan yang selalu terarah kepada-Nya. Dan selamanya kita terus dan tetap merasa diri paling hebat dan pintar dari pada sesama dan Tuhan sendiri.

 

Seperti Socrates yang selalu bertanya tentang makna kehidupannya, hendaknya kita juga senantiasa mempertanyakan segala hal yang kita buat dan membuat refleksi atasnya. Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan senantiasa mengintervensi segala hal yang kita lakukan. Ia senantiasa membuka ruang kebaikan dan keselamatan agar kita dapat masuk dan berkarya di dalamnya. Segala tugas, karya, dedikasi, perjuangan dan pergorbanan yang telah kita perbuat menjadi tanda nyata bahwa Tuhan ada dan memberkati segala hal yang kita lakukan. Sekarang tugas kita di masa prapaskah ini adalah semakin mendekatkan kepada-Nya, agar semakin menyadari eksistensi kodrati kita yang selalu terarah kepada Tuhan, wujud adikodrati kehidupan iman kita. Pada akhirnya, kita tidak ragu untuk melakukan segala perbuatan baik dan mulia, karena semua itu asalnya dari Yesus dan Bapa yang ada di dalam sorga. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 07 Maret 2021

MENJAUHI SIKAP EGO DAN IRI HATI

Luk 4:24-30

Dalam dunia kerja berlaku sebuah filosofi: “Yang berprestasi dalam kinerja patut mendapat penghargaan (reward), yang tidak menunjukkan kinerja yang baik, pastilah mendapat sanksi (punishment)”. Penghargaan bagi seorang pegawai atau karyawan yang telah bekerja dengan maksimal dan menunjukkan prestasi terealisasi dalam beragam bentuk. Bisa dalam bentuk ucapan terima kasih, dalam bentuk piagam penghargaan, atau juga bisa dalam bentuk lain. Misalnya mendapat kenaikan gaji, pangkat, jabatan, dan sebagainya.

 

Namun apa jadinya apabila segala usaha, kerja keras, perjuangan dan pengorbanan yang telah kita berikan tidak mendapat apresiasi atau penghargaan? Tidak jarang kita malah mendapat sindiran, cemoohan dan hinaan. Sebagai manusia biasa, tentu saja kita merasa kecewa, marah, sakit hati, dan tidak memiliki semangat dalam bekerja. Bagi mereka yang memiliki ketahanan tubuh yang lemah, pengalaman negatif seperti ini menjadi semacam pukulan telak yang mengguncang seluruh hidup mereka. Sementara bagi mereka yang sedikit lebih kuat, selalu ada kemungkinan untuk bangkit dan terus berjuang.

 

Pengalaman tidak dihargai, dialami juga oleh Yesus (Luk 4:24-30). Mirisnya, justru Ia tidak mendapat apresiasi dari orang-orang sekampung dan keluarganya sendiri. Tidak hanya cukup tidak memberi apresiasi, mereka juga malah mencemooh dan menghina Yesus. Pasti ada sesuatu yang melatari sikap negatif terhadap Yesus. Sikap itu adalah sikap ego dan iri hati. Mereka tidak sudi melihat Yesus menjadi terkenal oleh karena kata-kata dan perbuatan ajaib-Nya.

 

Perkataan Yesus, “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk 4:24), mencerminkan sikap ego dari orang-orang Israel pada umumnya yang tidak memberi tempat sedikit pun kepada para nabi utusan Tuhan. Dengan terang benderang, Yesus merujuk kepada perlakuan tidak adil yang harus diterima oleh dua nabi besar Israel yakni Elia dan Elisa. Dua nabi ini diutus Tuhan untuk membawa warta keselamatan bagi umat Israel. Tetapi justru keduanya tidak dihargai oleh umat Israel sendiri. Anehnya, kedua nabi ini malahan mendapat tempat dan dihargai oleh orang-orang non-Israel, yang nota bene dicap sebagai orang kafir. “Tetapi Elia diutus bukan kepada salah satu dari seorang dari mereka (orang Israel), melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu” (Luk 4:26-27).

 

Jelas sekali fakta sejarah ini kembali terulang. Bahkan Yesus yang tidak sekedar nabi, tetapi lebih dari pada nabi, juga tidak mendapat tempat di hati orang Israel. Berulang kali Yesus berusaha meyakinkan orang-orang sebangsa-Nya bahwa Dia adalah Anak Allah. Tidak hanya lewat kata-kata yang penuh kuasa tetapi juga lewat aksi-aksi fenomenal seperti penyembuhan orang sakit dan kerasukan roh jahat, peristiwa penggandaan roti serta peristiwa orang mati dibangkitkan. Namun hati dan pikiran orang-orang sebangsa-Nya telah menjadi batu. Memang ada yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya. Namun sebagian besar, tetap bersikeras untuk tidak percaya dan tidak mau memberi apresiasi bahwa Dia adalah sungguh Anak Allah. Sikap ego dan iri hati telah menggiring orang Israel untuk merasa diri paling hebat, paling pintar, paling suci, dan tidak mau dilewati oleh orang lain, termasuk oleh Yesus sendiri.

 

Sikap ego dan iri hati juga telah merasuki kita, orang-orang yang beriman kepada Yesus. Entah berapa kali kita telah menunjukkan sikap yang merendahkan dan tidak menganggap orang lain. Kita tidak mau memberi respek atau pengakuan kepada sesama atau orang lain yang telah menunjukkan prestasi dalam bidang tertentu. Kita tetap merasa diri lebih hebat dan pintar. Kita juga pintar mencari-cari alasan untuk menegakkan pembenaran diri. Kita juga mencari-cari celah untuk merendahkan dan menghina orang lain. Seakan-akan mereka tidak pantas mendapatkan penghargaan dari prestasi yang telah mereka torehkan

 

Kita merasa diri lebih berhak untuk mendapatkan penghargaan atau apresiasi. Namun, kita belum mampu memompa diri untuk mencapai level itu. Kita yang bersalah, tetapi seringkali orang lain yang disalahkan. Ibarat lempar batu sembunyi tangan dan kemudian mencari kambing hitam. Kita gampang terseret oleh egoisme yang mengagungkan diri sendiri sembari menyepelekan orang lain. Ketika muncul orang lain yang lebih bisa dari kita, rasa iri hati untuk tidak menerima pun mulai berkecamuk. Fatalnya, timbul pikiran dan perbuatan jahat untuk menghina, mencemooh, dan merendahkan.

 

Yesus sang inspirator agung telah memecah kepicikan hati dan pikiran kita agar lebih terbuka menerima, mengakui dan memberi respek kepada sesama yang telah menunjukkan prestasi apa saja dalam hidupnya. Kita harus berani memberi respek agar kita juga dapat belajar menjadi lebih bisa seperti orang lain. Kita tidak akan mampu berkembang dan berprestasi selama sikap ego dan iri hati masih menguasai diri. Prestasi yang telah ditunjukkan oleh orang lain bukan menjadi racun melainkan madu yang terus merangsang kita untuk bisa berkembang dan berprestasi. Mulai dari dalam keluarga, lingkungan dan di tempat kerja kita.

 

Marilah di pekan prapaskah yang ketiga ini, kita semakin menyadari diri untuk melepas segala sikap-sikap negatif terutama sikap ego dan iri hati. Semoga Tuhan senantiasa membimbing dan mengarahkan langkah kaki kita menuju pribadi yang semakin terbuka dan rendah hati. Bersama pemazmur kita berdoa kepada Tuhan: “Suruhlah terang-Mu dan kesetian-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu”. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 28 Februari 2021

PERCAYA DENGAN TANDA TUHAN

 

Mrk 11: 29-32

Sebagai makhluk ciptaan yang paling sempuna, manusia memiliki akal untuk berpikir, kehendak untuk bertindak dan suara hati untuk merasakan segala sesuatu yang ada. Entah yang berada di dalam diri, maupun yang berada di luar dirinya. Ketiga komponen dasar itu memainkan peran untuk membaca pelbagai tanda dalam kehidupannya. Tanda-tanda itu bisa muncul dari alam, dari hubungan atau relasi antara manusia, dan dari pergulatan hidup yang dialami seorang manusia atau segala peristiwa hidup apa saja yang digumulinya.

 

Tanda itu memberi petunjuk akan sesuatu hal atau peristiwa. Tanda itu bisa berwujud positif dan negatif. Ketika seorang petani melihat mendung hitam di langit, dia akan bersukacita karena akan segera turun hujan menyirami tanaman di ladangnya. Atau dalam kepercayaan masyarakat tertentu yang mempercayai hal buruk yang terjadi melalui sebuah tanda yang sepele. Misalnya ada piring, gelas, atau barang lainnya, yang tiba-tiba pecah tanpa sedikit pun disentuh oleh manusia atau disebabkan oleh sesuatu yang lain. Tanda dalam kehidupan manusia menjadi penting sebagai sebuah awasan, peringatan atau pedoman bagi manusia untuk tetap eksis melanjutkan kehidupannya di dunia

 

Tanda menjadi sesuatu yang urgen juga bagi orang-orang Yahudi terutama para elit agama melalui bacaan Injil pada hari ini (Mrk 11:29-32). Mereka meminta sebuah tanda dari Yesus yang sungguh memberi bukti atas segala kuasa dan perbuatan ajaib yang Ia lakukan. Yesus telah banyak bersabda dengan kata-kata yang indah dan penuh daya untuk menyentuh hati banyak orang. Ia memiliki kuasa untuk mengampuni orang berdosa dan membuat mereka percaya kepada Allah. Ia juga banyak melakukan mukjizat untuk menyembuhkan orang sakit dan orang yang kerasukan setan. Yesus juga menggandakan makanan untuk memberi makan banyak orang. Bahkan, Yesus juga membangkitkan orang yang telah mati.

 

Segala peristiwa dan pengalaman tentang Yesus ini yang menjadi bahan perbincangan sekaligus pergunjingan di antara umat Israel. Semua orang dibuat heran, kagum, dan penasaran. Buah dari kekaguman itu menghasilkan pertobatan di antara umat Israel. Tetapi masih juga ada yang tidak percaya. Seperti yang terjadi di kalangan para pemimpin agama Yahudi. Terlihat bahwa mereka juga merasa heran dan kagum akan sosok Yesus dan segala perbuatan-Nya yang ajaib. Namun ada sesuatu yang menutup pikiran dan hati sehingga membuat mereka tidak percaya kepada Yesus. Mereka berusaha mencari-cari alasan dengan meminta sebuah tanda dari Yesus. Padahal, Yesus dan segala karya-Nya sudah merupakan sebuah tanda agung yang mempresentasikan kehadiran Allah sendiri di muka bumi.

 

Para pemimpin agama Yahudi tidak mampu membaca tanda dalam diri Yesus karena pribadi mereka telah digerogoti oleh sikap sombong dan iri hati. Mereka merasa diri paling hebat dan paling pintar. Tidak ada yang boleh menyaingi kepintaran mereka. Jika pun ada, tentu saja mereka tidak akan mau menerima dan mengakui. Seperti yang mereka perbuat terhadap Yesus. Mereka menaruh sikap iri dan dengki karena tidak memiliki kharisma seperti yang dimiliki oleh Yesus. Kharisma Yesus itu nampak dari kata-kata penuh kuasa dan segala tindakan mukjizat yang menyelamatkan banyak orang. Apalagi gerakan Yesus ini sudah viral, menyebar ke mana-mana dan membawa simpati publik. Hal ini yang menjadi ketakukan tersendiri bagi para pemimpin Yahudi. Karena mereka akan kehilangan pamor dan bisa terjadi mosi tidak percaya dari umat terhadap para pemimpin agamanya sendiri.

 

Yesus sungguh merasa heran akan sikap keras hati dan kedegilan pikiran dari para pemimpin agama Yahudi. Bagaimana mungkin mereka yang mengklaim diri sebagai umat pilihan Allah, justru tidak menunjukkan jati diri yang selaras dengan status sebagai bangsa pilihan Allah. Yesus yang sudah terang benderang menjadi tanda agung dari Allah, tidak mampu dideteksi oleh umat yang mengaku sebagai umat pilihan. Ini sungguh tidak masuk di akal. Yesus kemudian membandingkan perilaku mereka dengan orang Niniwe yang bertobat dan percaya karena melihat tanda Allah dalam diri nabi Yunus. Padahal orang Niniwe merupakan bangsa kafir yang tidak percaya kepada Allah. Lalu Yesus mengatakan bahwa pada hari penghakiman, orang-orang kafir yang telah percaya kepada Allah akan bangkit dan memberi hukuman kepada bangsa pilihan Allah yang justru tidak menunjukkan kepercayaannya kepada Allah.

 

Dalam kehidupan ini, sebenarnya ada banyak tanda yang menyatakan bahwa Tuhan sungguh hadir walaupun kita tidak melihat-Nya secara kasat mata. Melihat pemandangan alam semesta yang indah, kita tidak ragu-ragu lagi untuk percaya kepada-Nya. Atau dalam setiap peristiwa hidup yang kita alami bersama orang lain. Kita memiliki orang tua yang penuh cinta, para sahabat sejati, rekan kerja yang handal, dan orang-orang yang mendukung hidup dan perjuangan kita. Bukankah itu memberi tanda bahwa Allah sungguh hadir.

 

Dalam setiap pergulatan atau pergumulan hidup yang kita alami secara personal, ada banyak tanda yang mengintervensi kehadiran Tuhan di sana. Misalnya, ketika kita mengalami keberhasilan atau kesuksesan akan sesuatu hal. Kita mendapat jodoh hidup yang baik, kita memperoleh pekerjaan yang baik, anak-anak kita yang berhasil dalam pendidikan, dan sebagainya. Tanda kehadiran Tuhan juga terbaca lewat cara lain. Kita bisa keluar dari tantangan atau beban berat yang kita hadapi dalam keluarga, di lingkungan atau di tempat kerja. Kita menjadi lebih sabar dan kuat. Tidak mudah putus asa dalam menghadapi aneka persoalan hidup. Kita lebih mudah mengampuni orang lain. Kita mau berkorban dan berjuang demi orang lain. Dan masih banyak lagi peristiwa atau pengalaman yang memberi tanda kehadiran Tuhan di dalam setiap napas kehidupan kita.

 

Kini kita telah memasuki masa prapaskah pekan pertama. Semoga melalui refleksi ini, kita semakin percaya kepada Tuhan melalui setiap tanda yang hadir dalam kehidupan. Kita semakin membuka diri terhadap Tuhan akan segala pesan yang Ia nyatakan melalui berbagai pengalaman dan peristiwa hidup yang kita alami. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Rabu, 10 Februari 2021

MENJAGA KEHALALAN DIRI

Mrk 7: 14-23

Saya kira beberapa istilah yang sangat kental dengan kelompok agama tertentu seperti haram, halal, dan najis sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ada kelompok agama tertentu yang sangat ketat mewajibkan anggota jemaatnya untuk mengikuti dan melaksanakan segala aturan yang berkaitan dengan tiga istilah di atas. Haram, halal, dan najis yang dikedepankan dalam hal ini cenderung segala sesuatu yang bersifat materi (jasmaniah). Lebih tepatnya pada tataran makanan dan minuman. Ada makanan dan minuman tertentu yang masuk kategori haram dan najis. Dan ini tidak boleh dikonsumsi. Barangsiapa entah sengaja atau pun tidak sengaja, melanggarnya, artinya ia sudah melakukan perbuatan dosa bagi dirinya. Di samping itu ada kategori makanan dan minuman yang bisa atau layak dikonsumsi. Makanan dan minuman ini yang masuk dalam kategori halal.

 

Saya yakin bahwa pada prinsipnya semua aturan keagamaan itu baik adanya. Aturan itu dibuat dengan tujuan mulia untuk semakin mendekatkan umat manusia dengan penciptanya. Pada area makan dan minum, tentu ada yang boleh dan tidak. Namun di atas semuanya, yang mau ditekankan dalam aturan keagamaan adalah pada soal bagaimana manusia bisa menjaga kemurnian hatinya agar tetap layak dan pantas di mata Tuhan. Inilah esensi sebenarnya dari kata haram, najis dan halal. Manusia harus menjaga tutur kata dan perbuatannya agar tidak menjadi haram dan najis. Yang dituntut dalam hal ini adalah kehalalan dalam setiap ucapan dan tindakan manusia. kehalalan yang dibuktikan dengan segala ucapan dan perbuatan yang baik. Bukan dengan ucapan dan perbuatan jahat yang menggiring jati diri manusia menjadi makhluk najis dan haram.

 

Ada yang menarik dalam bacaan Injil (Mrk 7:14-23) pada hari ini. Secara terbuka Yesus mengatakan kepada orang banyak bahwa apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Secara satir, Yesus menyindir sikap dan perilaku orang Yahudi yang sangat mementingkan aturan dan tradisi dalam agamanya, tetapi hati mereka sangat jauh dari Allah. Orang Yahudi, terutama para pemimpinnya kala itu, sangat getol meneriakan dan mewajibkan semua penganut agama Yahudi untuk sungguh-sungguh menaati segala aturan dan tradisi yang berlaku. Kita bisa mengecek beberapa aturan dan tradisi yang tertulis pada beberapa ayat Kitab Suci sebelumya. Misalnya kalau mau makan harus dengan tangan yang sudah dibasuh terlebih dahulu. Atau setelah pulang dari pasar orang tidak dapat makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya terlebih dahulu (Mrk 7:3-4). Dan berbagai aturan dan tradisi lain yang sangat detil diuraikan serta wajib dilaksanakan tanpa kecuali.

 

Yesus sebenarnya tidak menolak segala aturan dan tradisi yang berlaku dalam agamanya. Malahan Yesus sangat mendukung semua itu. Yang dikecam Yesus adalah sikap dan perilaku orang Yahudi sendiri yang tidak menggambarkan eksistensi diri mereka sebagai orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Mereka begitu tunduk pada segala aturan dan tradisi keagamaan, tetapi dari dalam hati masih muncul sikap-sikap destruktif yang menjauhkan diri mereka dari Allah. Mereka masih setia untuk berkompromi dengan perilaku ketidakadilan, ketidakjujuran, fitnah, iri hati, dendam, amarah yang berlebihan, kesombongan, kelicikan, dan sebagainya. Para pemimpin Yahudi adalah para insan Tuhan yang sangat legal formal. Mereka lebih mementingkan tradisi dan aturan, daripada nilai kasih yang harus diaplikasikan kepada Tuhan dan sesama. Secara lahiriah, mereka tampak bersih dan halal dari luar. Namun di sisi dalamnya penuh kotoran dan ngengat. Hati mereka tidak sungguh-sungguh halal untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

 

Dalam konteks kehidupan iman, manusia digambarkan sebagai makhluk paradoks. Di satu sisi manusia adalah makhluk ciptaan yang paling baik. Paling luhur. Karena ia diciptakan dari rupa dan gambar Allah sendiri. Namun di lain sisi, manusia memiliki kebebasan dan kehendak untuk memilih tindakannya. Manusia bisa memilih melakukan yang baik atau jahat. Dan di sinilah letak akar permasalahannya. Sejatinya, manusia yang terbentuk dari “elemen kudus Allah”, harus selalu dan tetap mengarahkan jati dirinya kepada Allah. Ia harus memilih Allah sebagai “pengantinnya” karena kebermulaannya berasal dari Allah. Ia harus menjaga tutur kata dan perbuatannya agar selalu halal di mata Tuhan. Sialnya, jamak terjadi tidak demikian. Saya dan anda sering terjebak untuk masuk dalam pusaran yang menjadikan pribadi kita tidak pantas di hadapan Tuhan. Kita lebih suka mendandani diri kita dengan cap najis dan haram. Secara fisik kita nampak bersih, cantik, ganteng, gagah, dan bonafid. Namun jauh di kedalaman hati, kita masih mempertontonkan sikap-sikap anti Tuhan. Kita masih mencintai diri kita yang penuh iri hati, penuh amarah, penuh kelicikan, penuh kesombongan, penuh kemunafikan, dan sikap-sikap negatif lainnya.

 

Hari ini, Tuhan datang menegur agar kita mau mengolah dan menjaga hati kita dengan baik. Hati itu kunci segalanya. Kalau hati kita baik maka kita menjadi orang baik. Sebaliknya hati kita jahat maka kita menjadi orang jahat. Sebagai manusia biasa, kita tidak luput dari segala kekeliruan, kesalahan dan dosa yang menyesatkan. Namun Tuhan itu mahabaik. Ia selalu menerima kita dengan kedua tangan-Nya. Berapa pun, sekian kali kita telah jatuh dan terperosok. Oleh karena itu sudah sepantasnya, kita menjaga kehalalan diri kita dengan menunjukkan tutur kata dan perilaku yang baik. Tidak hanya dengan berdoa dan memenuhi segala kewajiban agama. Yang lebih penting adalah kita mampu membawa nilai kasih di mana dan kapan saja kita berada. Tidak peduli siapa orangnya. Tentu kita tidak boleh memandang bulu. Kita harus memberikan pribadi kita sebagai harta kudus yang halal demi membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi semua orang.

 

Mari kita menjaga kehalalan diri kita masing-masing, baik di rumah, di lingkungan tempat tinggal, di tempat kerja, maupun di mana saja kita berada, agar kita semakin menjadi pribadi yang terarah kepada Tuhan dan bermartabat di mata sesama. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 25 Januari 2021

DIUTUS MEWARTAKAN KABAR GEMBIRA

 

LUK 10:1-9

            Hari ini Gereja Katolik sejagad memperingati dua orang kudus dari Gereja abad pertama yaitu: St. Timotius dan St. Titus, keduanya berasal dari keluarga kafir yang kemudian beriman kepada Yesus oleh karena pewartaan Paulus. Keduanya kemudian menjadi pengikut dan rekan setia Paulus dalam misi pewarta kabar suka cita Allah. Mereka diberi tugas penting dalam Gereja perdana, keduanya memperoleh kepercayaan untuk memimpin umat  dan ikut ambil bagian dalam tugas pewartaan Paulus dari daerah ke daerah. Lewat kesetiaan dan dedikasi mereka, Gereja perdana dibangun, diperkuat, ditopang dan dibesarkan oleh karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka mendapat tugas dan tanggungjawab yang berat lantaran banyak tantangan yang harus dihadapi untuk membimbing kehidupan iman umat. Militansi mereka dalam misi pewartaan menjadikan mereka tetap kokoh dan teguh dalam iman oleh karena kehidupan doa yang teratur.

 

            Dalam Injil yang baru saja kita dengar, Yesus memiliki otoritas dan kuasa penuh untuk memberikan tenaga dan kuasa Ilahi, Ia mengutus ketujuh puluh murid-Nya untuk mewakili Dia dalam kata dan tindakan keselamatan. Ketujuh puluh murid itu memiliki kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan berbagai penyakit atas nama-Nya. Yesus mengenal orang yang akan Dia panggil dan utus, Ia tidak memanggil orang yang berkelimpahan materi, memiliki status sosial tinggi dan bukan orang cerdik pandai. Yesus bahkan memilih dan memanggil mereka yang sederhana dan bersahaja yang memiliki keterbukaan dan kesiapan hati untuk siap diutus, nyata di sini bahwa kebanyakan dari murid Yesus umumnya dari kalangan yang tidak terpandang. Yesus memilih para murid-Nya dan menegaskan, “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala,” hal ini mau menegaskan bahwa tugas perutusan itu tidak gampang. Banyak tantangan dan perjuangan akan dialami oleh mereka. Yesus juga melarang mereka untuk tidak membawa pundi-pundi, bekal atau kasut. Para murid harus fokus kepada pewartaan tanpa terikat dan tergantung pada materi. Mereka jangan mencemaskan hal-hal duniawi karena Dia sendiri akan menyertai mereka. Dalam Matius 28:20 Yesus mengatakan, “Jangan cemas Aku akan menyertai kamu sampai akhir jaman,” Janji inilah yang menguatkan dan meneguhkan hati para murid sehingga mereka tetap setia dan fokus pada karya pewartaan. Janji Yesus menyertai para murid telah mempertobatkan Paulus dari keberutalannya mengejar dan membunuh para pengikut Kristus, bahkan ia mengalami titk balik pertobatan yang signifikan. Ia kemudian menjadi pewarta yang militan yang mempertobatkan banyak orang dengan kesaksian hidup imannya.

 

            Prioritas dari misi utama Yesus adalah untuk memberitakan Kerajaan Allah dan perintah untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Para murid diajak untuk menomorsatukan Kehendak Allah lewat pemberitaan Injil dan pembebasan secara real, aktual dan kontekstual. Yesus juga menekankan segi totalitas dimana para murid tidak diijinkan membawa apa-apa dalam perjalanan termasuk bekal agar mereka lebih fokus pada misi pewartaan. Para murid tidak boleh mengandalkan kemampuan diri mereka sendiri tetapi sepenuh hati mengandalkan kekuatan dari Allah dan belas kasih/kemurahan hati orang lain. Yesus mengutus para murid jalan berdua-dua agar mereka saling membantu dan menjadi saksi pewarta kabar keselamatan Allah. Kesaksian mereka harus merujuk dan berpedoman pada kasih dan kebaikan Allah, bukan kesaksian tentang kehebatan dan nama besar mereka, karena kuasa yang mengalir dari mereka bersumber dari kemurahan hati Allah sendiri.

 

            Tugas perutusan tujuh puluh murid Yesus juga menjadi tugas semua umat beriman Kristiani. Panggilan dan perutusan kita di dunia ini adalah memberikan kesaksian tentang pengalaman kita akan Yesus Kristus, yang terwujud dalam hidup dan pekerjaan kita. Seorang beriman Kristiani pertama-tama dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita untuk dilakukan adalah bagian dari usaha untuk membangun Kerajaan Allah dan harus selalu menampakkan wajah belas kasih Allah di dunia. Kita diajak untuk aktif menghadirkan Kerajaan Allah dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Kita didorong untuk aktif mengupayakan kebaikan dan membawa sebanyak mungkin orang ke jalan keselamatan Allah, bukan menghabiskan seluruh waktu hanya untuk membaca atau menonton kisah-kisah inspiratif yang  tidak mampu diaktualisasikan dalam tugas dan kerja nyata kita. Dalam hal ini, ada gerakan yang mendorong kita untuk melakukan tugas tersebut, dan gerakan itu kita yakini bersumber dan mengalir dari rahmat  Allah yang mendampingi dan memberikan kekuatan kepada kita untuk memberikan kesaksian iman dan kesaksian hidup sebagai murid-murid Yesus dalam mengupayakan kebaikan, keadilan dan kesalamatan di dunia ini. Kita harus aktif membangun Kerajaan Allah di dunia dengan mengupayakan kebaikan-kebaikan bagi Gereja dan masyarakat di sekitar kita. Kita memiliki keyakinan teguh akan Tuhan yang setia mendampingi perjalanan hidup kita, hidup dan pekerjaan kita adalah sebuah kesaksian yang mendatangkan buah-buah kebaikan bagi semua orang.

 

            Bacaan Injil hari ini menginspirasi dan mengajak kita untuk merenungkan arti perutusan kita di dunia ini yang terungkap dalam usaha dan kerja nyata untuk mewartakan Kerajaan Allah. Sebagaimana Paulus tetap berpegang teguh pada keyakinan dasarnya bahwa Tuhanlah pendamping dan pemberi kekuatan dalam pewartaan Injil. Maka sebagai orang beriman, kita juga dipanggil dan diutus dengan aneka talenta dan skill (bakat, kemampuan dan keterampilan) untuk memancarkan kasih Allah kepada sesama lewat tugas dan pekerjaan kita sebagai pegagawai, guru, tukang, petani, tenaga medis, cleaning service, penata taman, tukang masak, dll. Dalam kesempatan semacam ini, kita dapat menunjukkan kualitas pelayanan dan kualitas iman kita secara jujur dan bertanggungjawab, apa pun agama dan kepercayaan kita. Dalam kaca mata iman Kristiani, kita percaya bahwa Kristus adalah jaminan dan pengharapan bagi setiap orang yang mengandalkan Dia sebagai satu-satunya jalan dan keselamatan hidup kita. Semoga semangat St. Timotius dan Titus yang kita rayakan pestanya hari ini, mengubah hidup iman kita untuk menjadikan Kristus sebagai jalan keselamatan kita. Kedua orang kudus ini telah memilih jalan keselamatan yang benar bahkan mereka bersedia memikul tanggung jawab besar yang diberikan Gereja sebagai uskup untuk memelihara dan menguduskan iman umat. Meskipun pekan doa sedunia dengan ujud khusus yang dianjurkan oleh Gereja diberi limit waktu dari tanggal 18-25 Januari 2021 untuk persatuan umat Kristiani, namun tanggungjawab kita sebagai umat beriman tetap memberi porsi yang sama untuk secara konsisten mendoakan persatuan umat Kristiani. Semoga. ***Bernard Wadan***