Selasa, 16 Maret 2021

ASAL SEGALA PERBUATAN LUHUR DARI ALLAH

Yoh 5: 17-30

Socrates, seorang filsuf besar dari Yunani pernah mengatakan bahwa hidup yang tidak pernah dipertanyakan adalah hidup yang tidak pantas dijalani. Memang benar adanya bahwa sebagai makhluk kodrati, manusia selalu memiliki keterarahan kepada Sang Pencipta sebagai wujud adikodratinya. Manusia senantiasa melakukan refleksi tentang hidupnya. Tentang apa yang telah dilakukannya. Apakah itu sudah sesuai dengan kehendak Allah atau belum. Dengan adanya refleksi hidup, manusia dibimbing dan dituntun untuk bertindak semakin baik dan menjauhi segala perbuatan yang buruk sesuai dengan standar moral yang berlaku. Lebih dari itu, dalam kaca iman, manusia semakin memperbaiki diri untuk berkiblat pada Tuhan dan segala firman-Nya.

 

Hanya manusia yang tidak menyadari eksistensi dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tidak mau mempertanyakan atau melakukan refleksi atas hidupnya. Orang-orang ini cenderung merasa diri lebih pintar dan bijaksana sehingga melakukan sesuatu yang dianggap benar berdasarkan standar kebenaran pribadi tanpa mempedulikan nilai atau keutamaan lain yang lebih tinggi. Sehingga tidak heran, apa yang dibuat atau dilakukan terbaca tidak adil. Mereka lebih mementingkan pamor, jabatan dan kedudukan pribadi dengan mengabaikan semangat atau spirit kasih yang berlaku tanpa batas bagi semua orang.

 

Salah satu elemen masyarakat yang tidak menyadari jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah para pemimpin agama yang hidup sezaman dengan Yesus. Walaupun dengan jelas Yesus sudah mempresentasikan Diri-Nya sebagai Anak Allah, namun mereka tetap tidak mau mengakuinya. Akar persoalan ini muncul karena pribadi mereka telah terkontaminasi dengan sikap ego dan sombong. Mereka merasa diri paling pintar dan hebat.

 

Dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 5:17-30), api kemarahan semakin membara dalam diri para pemimpin agama terhadap Yesus. Bahkan mereka “lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (yoh 5:18). Kuasa otoritatif Yesus sebagai Anak Allah telah membuktikan tindakan-Nya yang melampaui hari Sabat. Sebuah hari suci yang dipandang lebih penting dari nilai atau martabat seorang manusia. Kehadiran Yesus akhirnya bukan menghilangkan hari Sabat tersebut, tetapi memenuhi dan menjiwainya dengan semangat kasih.

 

Tindakan atau perbuatan Yesus yang revolusioner ini sebenarnya bukan berasal dari Diri-Nya sendiri. Ada pendelegasian wewenang yang telah diterima-Nya dari Allah, Bapa-Nya di sorga. Namun, pendelegasian wewenang tidak menggariskan bahwa kedudukan Yesus lebih rendah dari Allah, Sang Bapa. Kedua-Nya bukan dua entitas yang berbeda. Kedua-Nya adalah satu. Yesus adalah Anak Allah. Dan Allah adalah Bapa dari Yesus. Atau secara tegas kita dapat mengatakan bahwa Yesus ada dalam Diri Allah. Dan Allah ada dalam diri Yesus.

 

Karena kedekatan personal antara dua pribadi ilahi ini, maka segala pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus tentu saja disetujui dan berasal dari Bapa-Nya. Yesus mengatakan: “Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh 5:19). Dengan pernyataan ini, Yesus menandaskan kepada semua orang bahwa Ia datang karena kemauan dan kehendak Allah. Lebih dari itu Allah adalah Bapa-Nya. Allah telah melimpahkan segala kuasa ilahi-Nya dalam diri Yesus. Termasuk dua kuasa besar yakni kuasa untuk membangkitkan orang mati dan kuasa untuk menghakimi (ayat 21-22).

 

Kuasa ilahi yang diberikan oleh Allah Bapa kepada Yesus adalah bukti nyata kasih Allah yang paling luhur kepada umat manusia. Dengan terang benderang Yesus melakukan pekerjaan ilahi-Nya untuk mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat dan bahkan membangkitkan orang mati. Puncak dari pekerjaan-Nya yang mulia adalah kebangkitan-Nya pada hari paskah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari keterpurukan dosa. Dan pada saat kebangkitan orang mati, Yesus memiliki kuasa untuk memberi penghakiman. Ia sendiri berkata: “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:28-29).

 

Segala hal yang baik dan bernilai yang telah dilakukan oleh Yesus berasal dari Allah Bapa di sorga. Dengan demikian, segala hal baik dan bernilai yang telah kita lakukan di dunia ini merupakan cerminan dari pekerjaan Yesus dan Bapa-Nya di sorga. Satu pertanyaan refleksi buat kita semua. Pernahkah kita menyadari karya Allah dalam setiap tugas dan pekerjaan kita? Ataukah kita menganggap semua itu sebagai hal yang biasa saja, tanpa campur tangan sedikit pun dari Allah. Atau juga kita mengklaim segala hal yang telah kita buat adalah buah pikiran dan hasil kreasi pribadi. Kalau kita masih berada dalam “zona nyaman” seperti ini maka kita belum menyadari eksistensi pribadi kita yang sebenarnya. Kita belum menyadari diri kita sebagai makhluk Tuhan yang selalu terarah kepada-Nya. Dan selamanya kita terus dan tetap merasa diri paling hebat dan pintar dari pada sesama dan Tuhan sendiri.

 

Seperti Socrates yang selalu bertanya tentang makna kehidupannya, hendaknya kita juga senantiasa mempertanyakan segala hal yang kita buat dan membuat refleksi atasnya. Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan senantiasa mengintervensi segala hal yang kita lakukan. Ia senantiasa membuka ruang kebaikan dan keselamatan agar kita dapat masuk dan berkarya di dalamnya. Segala tugas, karya, dedikasi, perjuangan dan pergorbanan yang telah kita perbuat menjadi tanda nyata bahwa Tuhan ada dan memberkati segala hal yang kita lakukan. Sekarang tugas kita di masa prapaskah ini adalah semakin mendekatkan kepada-Nya, agar semakin menyadari eksistensi kodrati kita yang selalu terarah kepada Tuhan, wujud adikodrati kehidupan iman kita. Pada akhirnya, kita tidak ragu untuk melakukan segala perbuatan baik dan mulia, karena semua itu asalnya dari Yesus dan Bapa yang ada di dalam sorga. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 07 Maret 2021

MENJAUHI SIKAP EGO DAN IRI HATI

Luk 4:24-30

Dalam dunia kerja berlaku sebuah filosofi: “Yang berprestasi dalam kinerja patut mendapat penghargaan (reward), yang tidak menunjukkan kinerja yang baik, pastilah mendapat sanksi (punishment)”. Penghargaan bagi seorang pegawai atau karyawan yang telah bekerja dengan maksimal dan menunjukkan prestasi terealisasi dalam beragam bentuk. Bisa dalam bentuk ucapan terima kasih, dalam bentuk piagam penghargaan, atau juga bisa dalam bentuk lain. Misalnya mendapat kenaikan gaji, pangkat, jabatan, dan sebagainya.

 

Namun apa jadinya apabila segala usaha, kerja keras, perjuangan dan pengorbanan yang telah kita berikan tidak mendapat apresiasi atau penghargaan? Tidak jarang kita malah mendapat sindiran, cemoohan dan hinaan. Sebagai manusia biasa, tentu saja kita merasa kecewa, marah, sakit hati, dan tidak memiliki semangat dalam bekerja. Bagi mereka yang memiliki ketahanan tubuh yang lemah, pengalaman negatif seperti ini menjadi semacam pukulan telak yang mengguncang seluruh hidup mereka. Sementara bagi mereka yang sedikit lebih kuat, selalu ada kemungkinan untuk bangkit dan terus berjuang.

 

Pengalaman tidak dihargai, dialami juga oleh Yesus (Luk 4:24-30). Mirisnya, justru Ia tidak mendapat apresiasi dari orang-orang sekampung dan keluarganya sendiri. Tidak hanya cukup tidak memberi apresiasi, mereka juga malah mencemooh dan menghina Yesus. Pasti ada sesuatu yang melatari sikap negatif terhadap Yesus. Sikap itu adalah sikap ego dan iri hati. Mereka tidak sudi melihat Yesus menjadi terkenal oleh karena kata-kata dan perbuatan ajaib-Nya.

 

Perkataan Yesus, “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk 4:24), mencerminkan sikap ego dari orang-orang Israel pada umumnya yang tidak memberi tempat sedikit pun kepada para nabi utusan Tuhan. Dengan terang benderang, Yesus merujuk kepada perlakuan tidak adil yang harus diterima oleh dua nabi besar Israel yakni Elia dan Elisa. Dua nabi ini diutus Tuhan untuk membawa warta keselamatan bagi umat Israel. Tetapi justru keduanya tidak dihargai oleh umat Israel sendiri. Anehnya, kedua nabi ini malahan mendapat tempat dan dihargai oleh orang-orang non-Israel, yang nota bene dicap sebagai orang kafir. “Tetapi Elia diutus bukan kepada salah satu dari seorang dari mereka (orang Israel), melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu” (Luk 4:26-27).

 

Jelas sekali fakta sejarah ini kembali terulang. Bahkan Yesus yang tidak sekedar nabi, tetapi lebih dari pada nabi, juga tidak mendapat tempat di hati orang Israel. Berulang kali Yesus berusaha meyakinkan orang-orang sebangsa-Nya bahwa Dia adalah Anak Allah. Tidak hanya lewat kata-kata yang penuh kuasa tetapi juga lewat aksi-aksi fenomenal seperti penyembuhan orang sakit dan kerasukan roh jahat, peristiwa penggandaan roti serta peristiwa orang mati dibangkitkan. Namun hati dan pikiran orang-orang sebangsa-Nya telah menjadi batu. Memang ada yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya. Namun sebagian besar, tetap bersikeras untuk tidak percaya dan tidak mau memberi apresiasi bahwa Dia adalah sungguh Anak Allah. Sikap ego dan iri hati telah menggiring orang Israel untuk merasa diri paling hebat, paling pintar, paling suci, dan tidak mau dilewati oleh orang lain, termasuk oleh Yesus sendiri.

 

Sikap ego dan iri hati juga telah merasuki kita, orang-orang yang beriman kepada Yesus. Entah berapa kali kita telah menunjukkan sikap yang merendahkan dan tidak menganggap orang lain. Kita tidak mau memberi respek atau pengakuan kepada sesama atau orang lain yang telah menunjukkan prestasi dalam bidang tertentu. Kita tetap merasa diri lebih hebat dan pintar. Kita juga pintar mencari-cari alasan untuk menegakkan pembenaran diri. Kita juga mencari-cari celah untuk merendahkan dan menghina orang lain. Seakan-akan mereka tidak pantas mendapatkan penghargaan dari prestasi yang telah mereka torehkan

 

Kita merasa diri lebih berhak untuk mendapatkan penghargaan atau apresiasi. Namun, kita belum mampu memompa diri untuk mencapai level itu. Kita yang bersalah, tetapi seringkali orang lain yang disalahkan. Ibarat lempar batu sembunyi tangan dan kemudian mencari kambing hitam. Kita gampang terseret oleh egoisme yang mengagungkan diri sendiri sembari menyepelekan orang lain. Ketika muncul orang lain yang lebih bisa dari kita, rasa iri hati untuk tidak menerima pun mulai berkecamuk. Fatalnya, timbul pikiran dan perbuatan jahat untuk menghina, mencemooh, dan merendahkan.

 

Yesus sang inspirator agung telah memecah kepicikan hati dan pikiran kita agar lebih terbuka menerima, mengakui dan memberi respek kepada sesama yang telah menunjukkan prestasi apa saja dalam hidupnya. Kita harus berani memberi respek agar kita juga dapat belajar menjadi lebih bisa seperti orang lain. Kita tidak akan mampu berkembang dan berprestasi selama sikap ego dan iri hati masih menguasai diri. Prestasi yang telah ditunjukkan oleh orang lain bukan menjadi racun melainkan madu yang terus merangsang kita untuk bisa berkembang dan berprestasi. Mulai dari dalam keluarga, lingkungan dan di tempat kerja kita.

 

Marilah di pekan prapaskah yang ketiga ini, kita semakin menyadari diri untuk melepas segala sikap-sikap negatif terutama sikap ego dan iri hati. Semoga Tuhan senantiasa membimbing dan mengarahkan langkah kaki kita menuju pribadi yang semakin terbuka dan rendah hati. Bersama pemazmur kita berdoa kepada Tuhan: “Suruhlah terang-Mu dan kesetian-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu”. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 28 Februari 2021

PERCAYA DENGAN TANDA TUHAN

 

Mrk 11: 29-32

Sebagai makhluk ciptaan yang paling sempuna, manusia memiliki akal untuk berpikir, kehendak untuk bertindak dan suara hati untuk merasakan segala sesuatu yang ada. Entah yang berada di dalam diri, maupun yang berada di luar dirinya. Ketiga komponen dasar itu memainkan peran untuk membaca pelbagai tanda dalam kehidupannya. Tanda-tanda itu bisa muncul dari alam, dari hubungan atau relasi antara manusia, dan dari pergulatan hidup yang dialami seorang manusia atau segala peristiwa hidup apa saja yang digumulinya.

 

Tanda itu memberi petunjuk akan sesuatu hal atau peristiwa. Tanda itu bisa berwujud positif dan negatif. Ketika seorang petani melihat mendung hitam di langit, dia akan bersukacita karena akan segera turun hujan menyirami tanaman di ladangnya. Atau dalam kepercayaan masyarakat tertentu yang mempercayai hal buruk yang terjadi melalui sebuah tanda yang sepele. Misalnya ada piring, gelas, atau barang lainnya, yang tiba-tiba pecah tanpa sedikit pun disentuh oleh manusia atau disebabkan oleh sesuatu yang lain. Tanda dalam kehidupan manusia menjadi penting sebagai sebuah awasan, peringatan atau pedoman bagi manusia untuk tetap eksis melanjutkan kehidupannya di dunia

 

Tanda menjadi sesuatu yang urgen juga bagi orang-orang Yahudi terutama para elit agama melalui bacaan Injil pada hari ini (Mrk 11:29-32). Mereka meminta sebuah tanda dari Yesus yang sungguh memberi bukti atas segala kuasa dan perbuatan ajaib yang Ia lakukan. Yesus telah banyak bersabda dengan kata-kata yang indah dan penuh daya untuk menyentuh hati banyak orang. Ia memiliki kuasa untuk mengampuni orang berdosa dan membuat mereka percaya kepada Allah. Ia juga banyak melakukan mukjizat untuk menyembuhkan orang sakit dan orang yang kerasukan setan. Yesus juga menggandakan makanan untuk memberi makan banyak orang. Bahkan, Yesus juga membangkitkan orang yang telah mati.

 

Segala peristiwa dan pengalaman tentang Yesus ini yang menjadi bahan perbincangan sekaligus pergunjingan di antara umat Israel. Semua orang dibuat heran, kagum, dan penasaran. Buah dari kekaguman itu menghasilkan pertobatan di antara umat Israel. Tetapi masih juga ada yang tidak percaya. Seperti yang terjadi di kalangan para pemimpin agama Yahudi. Terlihat bahwa mereka juga merasa heran dan kagum akan sosok Yesus dan segala perbuatan-Nya yang ajaib. Namun ada sesuatu yang menutup pikiran dan hati sehingga membuat mereka tidak percaya kepada Yesus. Mereka berusaha mencari-cari alasan dengan meminta sebuah tanda dari Yesus. Padahal, Yesus dan segala karya-Nya sudah merupakan sebuah tanda agung yang mempresentasikan kehadiran Allah sendiri di muka bumi.

 

Para pemimpin agama Yahudi tidak mampu membaca tanda dalam diri Yesus karena pribadi mereka telah digerogoti oleh sikap sombong dan iri hati. Mereka merasa diri paling hebat dan paling pintar. Tidak ada yang boleh menyaingi kepintaran mereka. Jika pun ada, tentu saja mereka tidak akan mau menerima dan mengakui. Seperti yang mereka perbuat terhadap Yesus. Mereka menaruh sikap iri dan dengki karena tidak memiliki kharisma seperti yang dimiliki oleh Yesus. Kharisma Yesus itu nampak dari kata-kata penuh kuasa dan segala tindakan mukjizat yang menyelamatkan banyak orang. Apalagi gerakan Yesus ini sudah viral, menyebar ke mana-mana dan membawa simpati publik. Hal ini yang menjadi ketakukan tersendiri bagi para pemimpin Yahudi. Karena mereka akan kehilangan pamor dan bisa terjadi mosi tidak percaya dari umat terhadap para pemimpin agamanya sendiri.

 

Yesus sungguh merasa heran akan sikap keras hati dan kedegilan pikiran dari para pemimpin agama Yahudi. Bagaimana mungkin mereka yang mengklaim diri sebagai umat pilihan Allah, justru tidak menunjukkan jati diri yang selaras dengan status sebagai bangsa pilihan Allah. Yesus yang sudah terang benderang menjadi tanda agung dari Allah, tidak mampu dideteksi oleh umat yang mengaku sebagai umat pilihan. Ini sungguh tidak masuk di akal. Yesus kemudian membandingkan perilaku mereka dengan orang Niniwe yang bertobat dan percaya karena melihat tanda Allah dalam diri nabi Yunus. Padahal orang Niniwe merupakan bangsa kafir yang tidak percaya kepada Allah. Lalu Yesus mengatakan bahwa pada hari penghakiman, orang-orang kafir yang telah percaya kepada Allah akan bangkit dan memberi hukuman kepada bangsa pilihan Allah yang justru tidak menunjukkan kepercayaannya kepada Allah.

 

Dalam kehidupan ini, sebenarnya ada banyak tanda yang menyatakan bahwa Tuhan sungguh hadir walaupun kita tidak melihat-Nya secara kasat mata. Melihat pemandangan alam semesta yang indah, kita tidak ragu-ragu lagi untuk percaya kepada-Nya. Atau dalam setiap peristiwa hidup yang kita alami bersama orang lain. Kita memiliki orang tua yang penuh cinta, para sahabat sejati, rekan kerja yang handal, dan orang-orang yang mendukung hidup dan perjuangan kita. Bukankah itu memberi tanda bahwa Allah sungguh hadir.

 

Dalam setiap pergulatan atau pergumulan hidup yang kita alami secara personal, ada banyak tanda yang mengintervensi kehadiran Tuhan di sana. Misalnya, ketika kita mengalami keberhasilan atau kesuksesan akan sesuatu hal. Kita mendapat jodoh hidup yang baik, kita memperoleh pekerjaan yang baik, anak-anak kita yang berhasil dalam pendidikan, dan sebagainya. Tanda kehadiran Tuhan juga terbaca lewat cara lain. Kita bisa keluar dari tantangan atau beban berat yang kita hadapi dalam keluarga, di lingkungan atau di tempat kerja. Kita menjadi lebih sabar dan kuat. Tidak mudah putus asa dalam menghadapi aneka persoalan hidup. Kita lebih mudah mengampuni orang lain. Kita mau berkorban dan berjuang demi orang lain. Dan masih banyak lagi peristiwa atau pengalaman yang memberi tanda kehadiran Tuhan di dalam setiap napas kehidupan kita.

 

Kini kita telah memasuki masa prapaskah pekan pertama. Semoga melalui refleksi ini, kita semakin percaya kepada Tuhan melalui setiap tanda yang hadir dalam kehidupan. Kita semakin membuka diri terhadap Tuhan akan segala pesan yang Ia nyatakan melalui berbagai pengalaman dan peristiwa hidup yang kita alami. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Rabu, 10 Februari 2021

MENJAGA KEHALALAN DIRI

Mrk 7: 14-23

Saya kira beberapa istilah yang sangat kental dengan kelompok agama tertentu seperti haram, halal, dan najis sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ada kelompok agama tertentu yang sangat ketat mewajibkan anggota jemaatnya untuk mengikuti dan melaksanakan segala aturan yang berkaitan dengan tiga istilah di atas. Haram, halal, dan najis yang dikedepankan dalam hal ini cenderung segala sesuatu yang bersifat materi (jasmaniah). Lebih tepatnya pada tataran makanan dan minuman. Ada makanan dan minuman tertentu yang masuk kategori haram dan najis. Dan ini tidak boleh dikonsumsi. Barangsiapa entah sengaja atau pun tidak sengaja, melanggarnya, artinya ia sudah melakukan perbuatan dosa bagi dirinya. Di samping itu ada kategori makanan dan minuman yang bisa atau layak dikonsumsi. Makanan dan minuman ini yang masuk dalam kategori halal.

 

Saya yakin bahwa pada prinsipnya semua aturan keagamaan itu baik adanya. Aturan itu dibuat dengan tujuan mulia untuk semakin mendekatkan umat manusia dengan penciptanya. Pada area makan dan minum, tentu ada yang boleh dan tidak. Namun di atas semuanya, yang mau ditekankan dalam aturan keagamaan adalah pada soal bagaimana manusia bisa menjaga kemurnian hatinya agar tetap layak dan pantas di mata Tuhan. Inilah esensi sebenarnya dari kata haram, najis dan halal. Manusia harus menjaga tutur kata dan perbuatannya agar tidak menjadi haram dan najis. Yang dituntut dalam hal ini adalah kehalalan dalam setiap ucapan dan tindakan manusia. kehalalan yang dibuktikan dengan segala ucapan dan perbuatan yang baik. Bukan dengan ucapan dan perbuatan jahat yang menggiring jati diri manusia menjadi makhluk najis dan haram.

 

Ada yang menarik dalam bacaan Injil (Mrk 7:14-23) pada hari ini. Secara terbuka Yesus mengatakan kepada orang banyak bahwa apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Secara satir, Yesus menyindir sikap dan perilaku orang Yahudi yang sangat mementingkan aturan dan tradisi dalam agamanya, tetapi hati mereka sangat jauh dari Allah. Orang Yahudi, terutama para pemimpinnya kala itu, sangat getol meneriakan dan mewajibkan semua penganut agama Yahudi untuk sungguh-sungguh menaati segala aturan dan tradisi yang berlaku. Kita bisa mengecek beberapa aturan dan tradisi yang tertulis pada beberapa ayat Kitab Suci sebelumya. Misalnya kalau mau makan harus dengan tangan yang sudah dibasuh terlebih dahulu. Atau setelah pulang dari pasar orang tidak dapat makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya terlebih dahulu (Mrk 7:3-4). Dan berbagai aturan dan tradisi lain yang sangat detil diuraikan serta wajib dilaksanakan tanpa kecuali.

 

Yesus sebenarnya tidak menolak segala aturan dan tradisi yang berlaku dalam agamanya. Malahan Yesus sangat mendukung semua itu. Yang dikecam Yesus adalah sikap dan perilaku orang Yahudi sendiri yang tidak menggambarkan eksistensi diri mereka sebagai orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Mereka begitu tunduk pada segala aturan dan tradisi keagamaan, tetapi dari dalam hati masih muncul sikap-sikap destruktif yang menjauhkan diri mereka dari Allah. Mereka masih setia untuk berkompromi dengan perilaku ketidakadilan, ketidakjujuran, fitnah, iri hati, dendam, amarah yang berlebihan, kesombongan, kelicikan, dan sebagainya. Para pemimpin Yahudi adalah para insan Tuhan yang sangat legal formal. Mereka lebih mementingkan tradisi dan aturan, daripada nilai kasih yang harus diaplikasikan kepada Tuhan dan sesama. Secara lahiriah, mereka tampak bersih dan halal dari luar. Namun di sisi dalamnya penuh kotoran dan ngengat. Hati mereka tidak sungguh-sungguh halal untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

 

Dalam konteks kehidupan iman, manusia digambarkan sebagai makhluk paradoks. Di satu sisi manusia adalah makhluk ciptaan yang paling baik. Paling luhur. Karena ia diciptakan dari rupa dan gambar Allah sendiri. Namun di lain sisi, manusia memiliki kebebasan dan kehendak untuk memilih tindakannya. Manusia bisa memilih melakukan yang baik atau jahat. Dan di sinilah letak akar permasalahannya. Sejatinya, manusia yang terbentuk dari “elemen kudus Allah”, harus selalu dan tetap mengarahkan jati dirinya kepada Allah. Ia harus memilih Allah sebagai “pengantinnya” karena kebermulaannya berasal dari Allah. Ia harus menjaga tutur kata dan perbuatannya agar selalu halal di mata Tuhan. Sialnya, jamak terjadi tidak demikian. Saya dan anda sering terjebak untuk masuk dalam pusaran yang menjadikan pribadi kita tidak pantas di hadapan Tuhan. Kita lebih suka mendandani diri kita dengan cap najis dan haram. Secara fisik kita nampak bersih, cantik, ganteng, gagah, dan bonafid. Namun jauh di kedalaman hati, kita masih mempertontonkan sikap-sikap anti Tuhan. Kita masih mencintai diri kita yang penuh iri hati, penuh amarah, penuh kelicikan, penuh kesombongan, penuh kemunafikan, dan sikap-sikap negatif lainnya.

 

Hari ini, Tuhan datang menegur agar kita mau mengolah dan menjaga hati kita dengan baik. Hati itu kunci segalanya. Kalau hati kita baik maka kita menjadi orang baik. Sebaliknya hati kita jahat maka kita menjadi orang jahat. Sebagai manusia biasa, kita tidak luput dari segala kekeliruan, kesalahan dan dosa yang menyesatkan. Namun Tuhan itu mahabaik. Ia selalu menerima kita dengan kedua tangan-Nya. Berapa pun, sekian kali kita telah jatuh dan terperosok. Oleh karena itu sudah sepantasnya, kita menjaga kehalalan diri kita dengan menunjukkan tutur kata dan perilaku yang baik. Tidak hanya dengan berdoa dan memenuhi segala kewajiban agama. Yang lebih penting adalah kita mampu membawa nilai kasih di mana dan kapan saja kita berada. Tidak peduli siapa orangnya. Tentu kita tidak boleh memandang bulu. Kita harus memberikan pribadi kita sebagai harta kudus yang halal demi membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi semua orang.

 

Mari kita menjaga kehalalan diri kita masing-masing, baik di rumah, di lingkungan tempat tinggal, di tempat kerja, maupun di mana saja kita berada, agar kita semakin menjadi pribadi yang terarah kepada Tuhan dan bermartabat di mata sesama. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 25 Januari 2021

DIUTUS MEWARTAKAN KABAR GEMBIRA

 

LUK 10:1-9

            Hari ini Gereja Katolik sejagad memperingati dua orang kudus dari Gereja abad pertama yaitu: St. Timotius dan St. Titus, keduanya berasal dari keluarga kafir yang kemudian beriman kepada Yesus oleh karena pewartaan Paulus. Keduanya kemudian menjadi pengikut dan rekan setia Paulus dalam misi pewarta kabar suka cita Allah. Mereka diberi tugas penting dalam Gereja perdana, keduanya memperoleh kepercayaan untuk memimpin umat  dan ikut ambil bagian dalam tugas pewartaan Paulus dari daerah ke daerah. Lewat kesetiaan dan dedikasi mereka, Gereja perdana dibangun, diperkuat, ditopang dan dibesarkan oleh karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka mendapat tugas dan tanggungjawab yang berat lantaran banyak tantangan yang harus dihadapi untuk membimbing kehidupan iman umat. Militansi mereka dalam misi pewartaan menjadikan mereka tetap kokoh dan teguh dalam iman oleh karena kehidupan doa yang teratur.

 

            Dalam Injil yang baru saja kita dengar, Yesus memiliki otoritas dan kuasa penuh untuk memberikan tenaga dan kuasa Ilahi, Ia mengutus ketujuh puluh murid-Nya untuk mewakili Dia dalam kata dan tindakan keselamatan. Ketujuh puluh murid itu memiliki kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan berbagai penyakit atas nama-Nya. Yesus mengenal orang yang akan Dia panggil dan utus, Ia tidak memanggil orang yang berkelimpahan materi, memiliki status sosial tinggi dan bukan orang cerdik pandai. Yesus bahkan memilih dan memanggil mereka yang sederhana dan bersahaja yang memiliki keterbukaan dan kesiapan hati untuk siap diutus, nyata di sini bahwa kebanyakan dari murid Yesus umumnya dari kalangan yang tidak terpandang. Yesus memilih para murid-Nya dan menegaskan, “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala,” hal ini mau menegaskan bahwa tugas perutusan itu tidak gampang. Banyak tantangan dan perjuangan akan dialami oleh mereka. Yesus juga melarang mereka untuk tidak membawa pundi-pundi, bekal atau kasut. Para murid harus fokus kepada pewartaan tanpa terikat dan tergantung pada materi. Mereka jangan mencemaskan hal-hal duniawi karena Dia sendiri akan menyertai mereka. Dalam Matius 28:20 Yesus mengatakan, “Jangan cemas Aku akan menyertai kamu sampai akhir jaman,” Janji inilah yang menguatkan dan meneguhkan hati para murid sehingga mereka tetap setia dan fokus pada karya pewartaan. Janji Yesus menyertai para murid telah mempertobatkan Paulus dari keberutalannya mengejar dan membunuh para pengikut Kristus, bahkan ia mengalami titk balik pertobatan yang signifikan. Ia kemudian menjadi pewarta yang militan yang mempertobatkan banyak orang dengan kesaksian hidup imannya.

 

            Prioritas dari misi utama Yesus adalah untuk memberitakan Kerajaan Allah dan perintah untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Para murid diajak untuk menomorsatukan Kehendak Allah lewat pemberitaan Injil dan pembebasan secara real, aktual dan kontekstual. Yesus juga menekankan segi totalitas dimana para murid tidak diijinkan membawa apa-apa dalam perjalanan termasuk bekal agar mereka lebih fokus pada misi pewartaan. Para murid tidak boleh mengandalkan kemampuan diri mereka sendiri tetapi sepenuh hati mengandalkan kekuatan dari Allah dan belas kasih/kemurahan hati orang lain. Yesus mengutus para murid jalan berdua-dua agar mereka saling membantu dan menjadi saksi pewarta kabar keselamatan Allah. Kesaksian mereka harus merujuk dan berpedoman pada kasih dan kebaikan Allah, bukan kesaksian tentang kehebatan dan nama besar mereka, karena kuasa yang mengalir dari mereka bersumber dari kemurahan hati Allah sendiri.

 

            Tugas perutusan tujuh puluh murid Yesus juga menjadi tugas semua umat beriman Kristiani. Panggilan dan perutusan kita di dunia ini adalah memberikan kesaksian tentang pengalaman kita akan Yesus Kristus, yang terwujud dalam hidup dan pekerjaan kita. Seorang beriman Kristiani pertama-tama dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita untuk dilakukan adalah bagian dari usaha untuk membangun Kerajaan Allah dan harus selalu menampakkan wajah belas kasih Allah di dunia. Kita diajak untuk aktif menghadirkan Kerajaan Allah dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Kita didorong untuk aktif mengupayakan kebaikan dan membawa sebanyak mungkin orang ke jalan keselamatan Allah, bukan menghabiskan seluruh waktu hanya untuk membaca atau menonton kisah-kisah inspiratif yang  tidak mampu diaktualisasikan dalam tugas dan kerja nyata kita. Dalam hal ini, ada gerakan yang mendorong kita untuk melakukan tugas tersebut, dan gerakan itu kita yakini bersumber dan mengalir dari rahmat  Allah yang mendampingi dan memberikan kekuatan kepada kita untuk memberikan kesaksian iman dan kesaksian hidup sebagai murid-murid Yesus dalam mengupayakan kebaikan, keadilan dan kesalamatan di dunia ini. Kita harus aktif membangun Kerajaan Allah di dunia dengan mengupayakan kebaikan-kebaikan bagi Gereja dan masyarakat di sekitar kita. Kita memiliki keyakinan teguh akan Tuhan yang setia mendampingi perjalanan hidup kita, hidup dan pekerjaan kita adalah sebuah kesaksian yang mendatangkan buah-buah kebaikan bagi semua orang.

 

            Bacaan Injil hari ini menginspirasi dan mengajak kita untuk merenungkan arti perutusan kita di dunia ini yang terungkap dalam usaha dan kerja nyata untuk mewartakan Kerajaan Allah. Sebagaimana Paulus tetap berpegang teguh pada keyakinan dasarnya bahwa Tuhanlah pendamping dan pemberi kekuatan dalam pewartaan Injil. Maka sebagai orang beriman, kita juga dipanggil dan diutus dengan aneka talenta dan skill (bakat, kemampuan dan keterampilan) untuk memancarkan kasih Allah kepada sesama lewat tugas dan pekerjaan kita sebagai pegagawai, guru, tukang, petani, tenaga medis, cleaning service, penata taman, tukang masak, dll. Dalam kesempatan semacam ini, kita dapat menunjukkan kualitas pelayanan dan kualitas iman kita secara jujur dan bertanggungjawab, apa pun agama dan kepercayaan kita. Dalam kaca mata iman Kristiani, kita percaya bahwa Kristus adalah jaminan dan pengharapan bagi setiap orang yang mengandalkan Dia sebagai satu-satunya jalan dan keselamatan hidup kita. Semoga semangat St. Timotius dan Titus yang kita rayakan pestanya hari ini, mengubah hidup iman kita untuk menjadikan Kristus sebagai jalan keselamatan kita. Kedua orang kudus ini telah memilih jalan keselamatan yang benar bahkan mereka bersedia memikul tanggung jawab besar yang diberikan Gereja sebagai uskup untuk memelihara dan menguduskan iman umat. Meskipun pekan doa sedunia dengan ujud khusus yang dianjurkan oleh Gereja diberi limit waktu dari tanggal 18-25 Januari 2021 untuk persatuan umat Kristiani, namun tanggungjawab kita sebagai umat beriman tetap memberi porsi yang sama untuk secara konsisten mendoakan persatuan umat Kristiani. Semoga. ***Bernard Wadan***

Senin, 18 Januari 2021

NILAI KEMANUSIAAN LEBIH PENTING DARIPADA PERATURAN

Mrk 2:23-28

            Seseorang mempraktikkan ajaran agama untuk mewujudkan kehendak Allah dalam hidupnya. Hal itu bukan untuk meninggikan diri atau pun merendahkan orang lain, sebab tujuan utamanya adalah untuk menyatakan kebaikan bersama dalam kasih karunia Allah. Bagi kaum Farisi, mereka hanya mengutamakan berbagai aturan dalam hukum Taurat. Bagi orang Yahudi, tidak ada hari yang lebih penting daripada hari Sabat. Sabat menjadi hari istimewa dan mendapat perhatian yang khusus karena merupakan salah satu dari sepuluh perintah Allah. Dalam hukum tersebut dijabarkan berbagai aturan secara detail, misalnya, tidak boleh melakukan kegiatan tertentu, mengatur tindakan apa saja yang boleh maupun tidak dilakukan oleh seseorang pada hari Sabat, dan lain sebagainya. Dengan pemahaman tersebut tidak heran jika orang Farisi menegur Yesus karena murid-muridNya berjalan di ladang dan memetik bulir gandum pada hari Sabat, sebab hal itu merupakan sesuatu yang tabu untuk dilakukan pada hari itu (24).

 

            Hidup manusia tidak bisa terlepas dari aturan, di mana saja kita hidup kita akan berhadapan dengan aturan. Tujuan utama peraturan dibuat untuk menciptakan ketenteraman, kedamaian dan kebaikan bersama. Namun,  terkadang di satu sisi banyak orang memiliki cara hidup yang kaku sesuai dengan peraturan melebihi Tuhan. Di sisi yang lain, penegakkan aturan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Aturan dibuat dan ditafsirkan untuk kepentingan tertentu sehingga hakikat terdalamnya hilang dan bahkan malah bertentangan dengan kebaikan dan keadilan umum. Yesus dalam Injil-Nya hari ini tampil untuk memberi arti dan makna baru terhadap aturan hukum Sabat sesungguhnya.

 

            Injil hari ini mengisahkan tentang protes yang diajukan orang-orang Farisi kepada para murid yang memetik bulir-bulir gandum pada hari Sabat dalam satu perjalanan bersama Yesus. Orang-orang Farisi yang begitu ketat dengan peraturan hari Sabat menegur Yesus dan mengingatkan bahwa apa yang dilakukan para murid melanggar aturan hari Sabat. Sebetulnya, aturan Sabat yang ditetapkan bertujuan baik yakni agar orang-orang memusatkan perhatiannya pada ibadah dan penghormatan kepada Allah. Enam hari orang dapat bekerja dan melakukan aktivitasnya sendiri dan hanya satu hari dalam sepekan yakni hari Sabat diperuntukkan atau dipersembahkan bagi Tuhan. Aturan hari Sabat jangan menjadi batu sandungan untuk melegalkan pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan. Mestinya  aturan Sabat memiliki ruang bebas bagi peristiwa-peristiwa yang tak terhindarkan berkaitan dengan kemanusiaan itu sendiri.

 

            Bagi Yesus, nilai kemanusiaan jauh lebih penting daripada sibuk mengamankan peraturan. Manusia diciptakan Allah jauh sebelum adanya Sabat, karena itu, Hukum Sabat ditetapkan agar hidup manusia lebih terarah kepada Allah. Yesus mengutip dari Kitab Suci bahwa bahkan Daud mengambil perkecualian dari hukum demi pengikut-pengikutnya yang kelaparan (1Sam 21:2-7). Yesus terus mewartakan bahwa Allah menciptakan Sabat bagi manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat. Mereka yang mengikuti Yesus harus menafsirkan seluruh hukum Yahudi dengan hidup menurut semangat hukum Allah, yaitu berbelas kasih. Yesus memberi satu pendekatan baru dan berusaha membebaskan umat dari beban aturan yang membelenggu. Yesus menggugat aturan Sabat karena Ia melihat bahwa aturan yang luhur dan dimaksudkan untuk menjauhkan orang-orang Israel dari kecenderungan menomorduakan Tuhan. Aturan Sabat ditafsirkan secara kaku bahkan dijadikan sebagai senjata ampuh untuk menekan masyarakat agar mereka mendapatkan pengakuan verbal dari masyarakat bahwa merekalah penjaga kemurnian hukum Taurat yang benar. Yesus membiarkan para murid memetik dan memakan bulir gandum pada hari Sabat untuk menunggu reaksi orang-orang Yahudi. Tindakan Yesus ini bukan indikasi bahwa Ia tidak menghargai aturan Sabat, tetapi Ia menantang praktek-praktek aturan Sabat yang melanggar dan tidak menghargai keluhuran martabat manusia. Dengan kata lain, Yeus mengajarkan bahwa nilai manusia, situasi hati dan disposisi batin manusia jauh lebih tinggi untuk diutamakan daripada sekedar mengamankan peraturan.

 

            Hari Sabat hendaknya mendatangkan berkat, bukan menjadi belenggu yang menjerat dan memasung orang. Namun, orang Farisi membuat Sabat menjadi belenggu yang membatasi ruang gerak. Oleh sebab itu, Yesus menunjukkan bahwa Sabat merupakan karunia Allah, yang dirancang sebagai hari istirahat dan hari ibadah. Bila Yesus dan para murid beraktivitas pada hari Sabat, Ia tidak bermaksud melanggar hari Sabat. Ia juga tidak sedang mengajar para murid melawan hukum Sabat. Yesus menjadikan karya-Nya sebagai bukti bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Dalam peristiwa makan di ladang gandum, Yesus ingin mengembalikan arti Sabat yang sesungguhnya. Sabat harusnya menjadikan manusia semakin menyadari hakikat diri dan memahami bahwa Allah adalah Empunya hari Sabat. Manusia mesti menjadikan hari Sabat sebagai hari penuh berkat dan membagi berkat itu kepada semua orang. Berkat belas kasih bagi yang sedang sakit, makanan bagi yang lapar, dan pembebasan bagi yang tertindas. Memaknai Sabat sebagai hari penuh berkat berarti menyediakan ruang bagi Allah untuk menyatakan karya-Nya dalam hidup kita, juga ruang bagi kita untuk menumbuhkan kepekaan terhadap sesama.  Sebagaimana program di rumah saja ketika pandemi Covid-19 ini memberikan banyak sekali pengalaman rohani. Salah satu yang mendasar antara lain banyak orang menemukan makna di rumah saja seperti Sabat dalam Injil. Di rumah saja bukan persoalan berhenti bekerja atau berhenti berbuat baik melainkan semakin memacu kita untuk menemukan dan merasakan sapaan Allah secara personal. Orang tidak sibuk dengan pekerjaannya, tetapi mereka mengerti bahwa dalam kebersamaan dengan Allah kita bisa melihat dan melakukan banyak hal baik bagi orang lain. Pada hari Sabat Yesus juga menemukan apa yang dibutuhkan oleh orang-orang yang menderita.

 

            Semoga Sabda Tuhan pada hari ini, menggugah dan mengajak kita sekalian untuk bersikap kritis terhadap cara bertindak kita berkaitan dengan hukum dan peraturan. Sering, demi peraturan kita secara sadar mengorbankan martabat dan kemanusiaan sesama kita. Sering juga tanpa sadar kita mengorbankan sesama demi penegakkan hukum padahal hukum itu ditetapkan untuk kepentingan manusia. Tanpa bermaksud meremehkan segala hukum, kasih jauh lebih bermakna daripada hanya sekedar taat hukum tanpa penghayatan kasih. Kasih yang total kepada manusia jauh lebih bernilai daripada sekedar taat buta tanpa makna terhadap hukum buatan manusia. Semoga kita semakin sadar dan terpanggil untuk menjadikan hukum dan peraturan demi menjamin keadilan dan kepentingan semua orang tanpa kecuali. Semoga...

***Bernard Wadan***

 

 

Minggu, 10 Januari 2021

PERTOBATAN: PILIHAN YANG MEMBEBASKAN

 

Mrk 1:14-20

Seorang bapak yang saya kenal cukup baik mensyeringkan pengalaman hidup rohaninya. Pada masa-masa awal membina hubungan rumah tangga bersama istrinya, kehidupan rohaninya sangat memprihatinkan. Ia tidak pernah berdoa secara pribadi atau pun secara bersama-sama dengan anggota keluarga. Mengikuti perayaan ekaristi di gereja apalagi. Bahkan dengan logikanya, ia sempat meragukan dan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup manusia. Situasi hidupnya berbanding terbalik dengan kehidupan istrinya yang sangat religius. Istrinya sering mengingatkan dirinya untuk aktif dalam kehidupan rohani dan jangan melupakan Tuhan. Namun, sang bapak ini sering menanggapinya dengan sikap apatis. Kadang-kadang dengan perasaan emosional sehingga berujung terjadinya konflik antara suami dan istri.

 

Situasi mulai berubah pada waktu sang bapak dan istrinya dikaruniai seorang anak perempuan. Tiba-tiba saja, sang bapak mulai aktif mengikuti misa di gereja. Dengan kesadaran pribadi ia mulai berdoa. Tanpa paksaan dari sang istri tercinta. Sang bapak merasa heran dengan perubahan radikal yang terjadi dalam hidupnya. Tetapi dengan penuh keyakinan ia berkata bahwa perubahan yang terjadi dalam hidupnya berkat doa yang begitu tulus dari sang istri. Tuhan menjadikan istrinya sebagai alat untuk menobatkan dirinya.

 

Yesus mulai sungguh-sungguh tampil di muka publik ketika Yohanes ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara oleh raja Herodes (Mrk 1:14). Yesus menyadari bahwa sudah saatnya Ia harus muncul untuk memperkenalkan Diri dan karya keselamatan-Nya kepada segenap makhluk. Yohanes telah membuka jalan dan mempersiapkan kedatangan-Nya dengan menyerukan pertobatan kepada seluruh umat Israel. Dengan segera Yesus mempresentasikan kehadiran-Nya, sembari menguatkan kembali kata pertobatan yang telah lebih dahulu diserukan oleh Yohanes Pembaptis. “Waktunya sudah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Inji.” (Mrk 1:15)

Ada dua pernyataan menarik yang diucapkan oleh Yesus. Pertama, Kerajaan Allah sudah dekat. Kedua, bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Kerajaan Allah sudah dekat merujuk pada kekuasaan Allah yang segera merajai hidup umat manusia. Melalui Yesus, Kerajaan Allah sungguh ditampilkan untuk membawa pertobatan dan keselamatan dalam hidup manusia. Pertobatan berasal dari kata dasar tobat. Tobat memiliki makna perubahan dalam pikiran dan sikap. Perubahan dari suatu situasi atau keadaan yang negatif/jahat menuju kepada situasi atau keadaan yang positif/baik. Pertobatan dalam diri manusia diartikan sebagai sebuah perubahan yang menghantar manusia keluar dari cengkeraman dosa menuju kepada kebebasan sebagai anak-anak terang. Terminologi anak-anak terang adalah anak-anak yang mengkuti kehendak Allah dengan sikap percaya kepada Injil. Inilah inti pewartaan yang didengungkan oleh Yesus agar umat Israel dapat memenuhi kualifikasi untuk masuk dalam kerajaan Allah. Jika tidak, maka orang tetap terkungkung dalam dosanya. Dan selamanya tidak akan mendapat keselamatan dalam kerajaan ilahi.

 

Wujud konkrit dari kampanye pertobatan ditunjukkan oleh Yesus ketika memanggil murid-murid-Nya yang pertama. Ia memanggil dua bersaudara Simon dan Andreas. Kemudian Ia juga mengajak dua bersaudara lainnya yakni anak-anak Zebedeus; Yakobus dan Yohanes. Hal yang sungguh berkesan bagi saya adalah keempat orang ini tanpa banyak berbicara langsung berdiri dan pergi mengikuti Yesus. Mereka pergi meninggalkan keluarga dan kemapanan hidup yang telah mereka raih. Tidak ada rasa keragu-raguan atau pun penyelesalan yang terselip dalam diri mereka. Secara pribadi, Yesus tampak sebagai orang asing bagi keempat orang ini. Namun sepertinya profil Yesus telah menyentak dan menarik mereka untuk lebih dekat lagi dengan diri-Nya. Mungkin sebelumnya mereka telah memiliki referensi tentang sosok Yesus yang luar biasa. Mengenai perkataan dan perbuatan-Nya yang prestisius. Sehingga tanpa ragu-ragu, mereka menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Dia. Menjadi penjala ikan itu sudah biasa. Tetapi yang menantang bagi mereka adalah menjadi penjala manusia. “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk 1:17). Penjala ikan merupakan suatu pekerjaan yang baru dan sangat asing. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa mereka mau mengikuti ajakan Yesus.

Ungkapan substansi pertobatan yang termanifestasi dalam panggilan para murid  pertama mengetengahkan dua aspek. Pertama, undangan Tuhan. Undangan Tuhan kepada empat orang nelayan untuk mengikuti Yesus bersifat sukarela. Tidak wajib. Mereka diberi pilihan bebas untuk mengatakan ya atau tidak. Kedua, jawaban para murid. Pilihan ya tanpa kompromi mengandung pesan bahwa para murid dengan bebas, sukarela, dan tulus mau mengikuti ajakan Yesus untuk meninggalkan pekerjaan “penjala ikan”, menjadi “penjala manusia”. Menjala ikan adalah pekerjaan duniawi yang acapkali membelenggu pribadi manusia untuk menjadi pribadi yang bebas. Pribadi yang mampu mengaktualisasi dirinya untuk melaksanakan kehendak Allah dalam diri sesama. Dan untuk menjadi pribadi yang bebas para nelayan yang dipanggil harus bertransformasi menjadi penjala-penjala manusia yang handal. Empat nelayan yang dipanggil Yesus, secara tidak langsung telah menyatakan dirinya untuk bertobat dan kemudian mengikuti Yesus sebagai murid-Nya. Mereka tidak cukup bertahan pada tataran menjadi penjala ikan. Ada pekerjaan lebih penting dan besar yang sudah disiapkan oleh Yesus bagi mereka untuk “menjala manusia”’, membawa banyak orang kembali ke dalam persekutuan dengan Allah Bapa di sorga.

 

Seperti kepada para murid, undangan Tuhan kepada kita juga bersifat terbuka dan bebas. Sejatinya kita sudah dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi murid Yesus. Kemudian jati diri itu semakin dipertegas oleh sakramen pembaptisan yang semakin mengukuhkan kita sebagai seorang murid Yesus. Namun meterai suci itu seringkali ternoda oleh sikap atau perilaku yang menancapkan diri kita ke jurang dosa. Hari ini, kita semua dipanggil oleh Yesus untuk bertobat dan semakin percaya kepada Injil-Nya. Hanya dengan demikian kita semua dapat mengalami dan merasakan nuansa Kerajaan Allah di muka dunia. Yesus secara fisik telah tiada sejak 2000-an tahun yang lalu. Dengan percaya kepada Injil-Nya, kita mampu menghidupkan kembali spirit Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari. Mari kita mengambil pilihan yang bebas untuk bertobat, percaya kepada Injil Tuhan, dan menjadi penjala manusia dalam tugas dan karya kita di tengah dunia. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***