Selasa, 05 Agustus 2025

Wajah Yesus Berubah

 

Injil Lukas 9:28b-36. ( Ketika Yesus sedang berdoa, wajahnya berubah)

 Hari ini gereja merayakan Pesta Yesus menampakan kemuliaan-Nya. Bacaan hari ini, kita mendenga dan menyaksikan peristiwa luar biasa: Di atas gunung, Yesus menampakan kemuliaan-Nya di hadapan tiga murid terdekatnya, yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus, wajah Yesus berubah, pakaiannya menjadi putih berkilauanan, dan ia berbicara dengan dengan dua orang yakni Musa dan Elia. Peristiwa ini bukan sekedar pertunjukan ilahi, melainkan pewahyuaan siapa Yesus sebenarnya. Dia adalah Anak Allah yang akan menggenapi misi keselamatan Allah di dunia ini. Petrus merasa terpesona oleh kemuliaan Yesus dan ingin tinggal didalam momen yang indah dan luar biasa itu untuk selamanya. Akan tetapi ditengah eforia spiritual tersebut, terdengarlah sebuah suara, “ Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” Suara ini merupakan sebuah panggilan bagi para murid dan kita semua umat untuk tidak hanya mengalami Yesus dalam kemuliaan-Nya, tetapi juga sungguh—sungguh mendengarkan dan mengikuti-Nya.


Penginjil Lukas mencatat bahwa peristiwa ini terjadi saat Yesus sedang berdoa.  Di satu sisi, hal ini mengajarkan kita bahwa dalam keheningan dan kedekatan dengan Allah, kita dapat mengalami pengalaman rohani yang mendalam.  Doa bukan sekedar permohonan, melaikan perjumpaan yang mengubah hidup kita. Dalam doa, kitapun bias melihat kemuliaan Tuhan yang hadir di dalam diri kita, bahkan ditengah di kesulitan kita sendiri. Setiap momen kedekatan dengan Tuhan dapat mengubah hati kita.

Disisi lain, dalam hidup sehari-hari, kita semua mengalami gunung dan lembah yakni saat-saat penuh terang dan saat-saat gelap. Apalagi dalam era digitalisasi kita harus mampu membawa perubahan dan jangan berdiam diri.      Peristiwa transfigurasi /perubahan, terjadi tidak lama setelah Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Ia akan menderita dan mati.  Karena itu, pesta yang kita rauyakan hari ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan Allah hadir dalam keduanya. Kita diajak untuk tidak hanya mencari pengalaman rohani yang menyenangkan,  tetapi juga setia dalam pederitaan, percayala bahwa Tuhan menyertai kita. Setiap pengalaman rohani yang kita miliki mestinya tidak hanya untuk dinikmati sendiri. Yesus mengajak para murid untuk turun gunung, kembali ke dunia nyata, kedalam pelayanan dan penderitaan. Pengalaman rohani yang mendalam seharusnya mendorong kita untuk lebih setia kepada tugas dan tanggungjawab kita di tengah dunia. Kita tidak dipanggil untuk tinggal di zona nyaman, tetapi untuk membawa terang Kistus kedlam dunia yang terluka. Kita diajarkan untuk mendengarkan dia,  artinya untuk hidup menurut sabda-Nya, bukan hanya kita berada di gunung ( ketika kita gembira), melainkan juga saat berada di lembah (ketika dalam pergumulan). Kita dipanggil untuk menjadi murid yang mendengarkan. Mendengarkan Yesus berarti membuka hati terhadap sabdanya, membiarkan diri dibentuk oleh kasih-Nya,  dan berani melangkah dalam iman meski jalannya terasa berat. Semoga kita mau dibentuk oleh sabda-Nya dan mampu untuk terus bertumbuh dalam iman, serta menjadi saksi kemulian Kristus di tengah dunia.